Seseorang Di Atas Loteng (Part 4)
Cerpen Karangan: Asiah Musthofawi
Jajaran porselen mahal yang tersusun rapi di dalam lemari, sofa-sofa besar, dan wallpaper-wallpaper cantik yang menghiasi dinding, sedikit demi sedikit mulai kehilangan keindahannya. Beberapa serpihan kaca kecil jatuh di atas lantai yang mulai retak. Di balik kilatan cahaya oranye terlihat sepasang mata biru yang sibuk memperhatikan cahaya yang membakar setiap benda yang dilewatinya. Pengamat itu tepat berdiri di tengah jilatan api oranye yang menyala. Berbeda dengan benda-benda di sekitarnya yang mulai hancur dan menghitam, sosok itu seolah tidak merasakan panas sama sekali. Kemudian ia berkeliling di ruangan tersebut. Tangannya meraba sekeliling, menyentuh porselen, sofa, wallpaper dinding, bahkan lantai yang kini tidak utuh lagi. Namun, kehadirannya yang tidak masuk akal, membuat semua yang disentuhnya menjadi mustahil untuk disentuh.
BRAAAKKKKK..
Tiba-tiba, dari arah pintu utama masuk beberapa orang berseragam. Mereka masuk membawa peralatan lengkap dan berlari menembus sosok yang terus berdiri dan memperhatikan semuanya. Kemudian, perlahan sosok itu pun mulai memudar, dirinya mulai menghilang dan menguap bersama asap pekat yang menyelimuti ruangan tersebut.
—
Di atas lonteng Miya masih terisak sambil sesekali terbatuk. Napasnya mulai sesak dan matanya terasa pedih. Sedikit demi sedikit ruangan itu mulai dipenuhi asap pekat yang masuk dari sela-sela pintu masuk loteng. Ia berusaha menahan napas selama mungkin agar bau asap tidak terlalu banyak memenuhi paru-parunya. Namun, usahanya sia-sia. Tubuhnya mulai lemas, dan yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah memperhatikan sekeliling mencari sosok Leon.
“Leon.” Miya memanggil namanya sambil terbaring lemas. “uhuk.. uhuk.. Leon, mereka tidak peduli padaku.. uhuk.. uhuk.”
“Apinya semakin membesar dan tak ada satu pun yang peduli kalau sekarang aku ada di sini.” Miya hanya bisa menangis dan terbaring lemah. Napasnya semakin tipis dan pandangannya pun kini mulai gelap. Samar-samar ia melihat bayangan Leon dan cahaya tipis yang ke luar dari tubuhnya. Miya terbangun dengan kaget. Aneh. Napasnya tidak sesak lagi. Miya melihat ada cahaya biru yang menyelubungi dirinya, udara di dalam selubung itu jadi berbeda dari udara di luarnya.
“Apinya semakin membesar dan tak ada satu pun yang peduli kalau sekarang aku ada di sini.” Miya hanya bisa menangis dan terbaring lemah. Napasnya semakin tipis dan pandangannya pun kini mulai gelap. Samar-samar ia melihat bayangan Leon dan cahaya tipis yang ke luar dari tubuhnya. Miya terbangun dengan kaget. Aneh. Napasnya tidak sesak lagi. Miya melihat ada cahaya biru yang menyelubungi dirinya, udara di dalam selubung itu jadi berbeda dari udara di luarnya.
“Kau sudah bangun?”
“Leon, apa aku sudah mati?”
“Tidak.” jawab Leon singkat sambil menggeleng dan tersenyum.
“Ke-kenapa bisa? Apa ini? dan tubuhmu?”
“Sssstttt.. ini rahasia langit.”
“Leon, apa aku sudah mati?”
“Tidak.” jawab Leon singkat sambil menggeleng dan tersenyum.
“Ke-kenapa bisa? Apa ini? dan tubuhmu?”
“Sssstttt.. ini rahasia langit.”
Kepala Miya dipenuhi tanda tanya. Semua hal yang terjadi sekarang benar-benar tidak masuk akal. Ia melihat dirinya diselubungi cahaya biru yang ke luar dari tubuh Leon. Cahaya itu berputar di sekitar Miya, dan cahaya itu lambat laun membuat tubuh Leon menjadi transparan. “Tidak.. Leon tidak boleh pergi.” Miya mulai terisak. “Miya, dengarkan aku. Mereka semua peduli padamu. Aku melihat beberapa orang masuk hanya untuk mencarimu.”
“Tidak.. aku ingin bersama Leon, karena hanya Leon temanku.” ucap Miya sambil menggenggam tangan Leon dengan erat. “Hah.. sepertinya permintaanku sebelum mati sudah membuatku menjadi hantu yang jahat.” Leon mengusap dengan lembut rambut Miya. Wajahnya terlihat sedih dan penuh penyesalan, tapi kemudian wajah sedih Leon segera berganti dengan senyuman. Ia menarik napas panjang seolah mengembuskan semua beban di hatinya. Sementara itu, Miya hanya bisa menatap Leon dengan heran.
“Lagu dari biola yang kau dengarkan itu.. Ibuku yang mengajarinya. Dia wanita yang baik, tapi wajahnya selalu terlihat sedih. Terutama.. ketika melihat aku dan Ayah.” Leon mengubah posisi duduknya, ia bercerita sambil menatap kumpulan asap yang semakin menghitam. Matanya menerawang jauh sambil berusaha mengingat hal yang sangat ingin ia lupakan. Sementara Miya hanya duduk diam dan mendengarkan. “Ibuku berasal dari Indonesia, dia adalah anak dari seorang tokoh yang sangat dihormati di wilayahnya. Sementara Ayahku adalah pemimpin pasukan Belanda yang menyerang wilayah tersebut.”
“Ayah jatuh cinta pada Ibu, sehingga Ayah membuat kesepakatan pada wilayah tersebut. Demi menjaga orang-orang di wilayah itu, Ibu menikah dengan Ayah. Keadaan Ibu yang tidak pernah benar-benar mencintai Ayah, semakin bertambah buruk karena kelahiranku. Ibu harus membesarkanku yang tidak punya kemiripan sama sekali dengan dirinya. Aku tidak punya warna kulit ataupun warna rambut dan mata seperti dirinya. Tidak satu pun.”
“Kemudian, hal yang selalu aku takutkan terjadi. Tahun 1942 Belanda dikalahkan oleh Jepang. Dua tahun sebelumnya, Belanda jatuh ke tangan Jerman dan pemerintahan mereka lari ke London. Tahun kelam itu menjadi tahun terakhir aku melihat Ayah. Sementara itu, orang-orang yang sudah lama menumpuk dendam dan haus akan kebebasan, mencari sisa-sisa orang kulit putih. Mereka mengusir bahkan membunuh orang-orang yang pernah bekerja sama dan memiliki hubungan dengan bangsa penjajah.”
“Karena hal tersebut, di malam tahun 1942 Ibu mengirimku ke sebuah dermaga sambil memberikan sebuah surat dan alamat. Ia menyuruhku menaiki kapal terakhir yang membawa para tentara Belanda dan menyuruhku mencari kerabat Ayah. Saat itu usiaku masih 8 tahun, aku sangat takut dan tidak tahu harus berbuat apa, jadi aku terus memeluk Ibu sambil memohon agar Ibu tetap mengizinkan aku tinggal bersamanya.”
“Tapi ia malah memukulku dan berteriak. ‘Pergi..’ begitu katanya. Aku ketakutan dan terus berlari menuju kapal. Saat aku menoleh ke belakang.. Ibu benar-benar pergi meninggalkanku. Selama perjalanan aku terus berpikir bahwa Ibu melakukan ini demi kebaikanku, karena jika aku tetap di sana aku pasti terbunuh. Aku terus berpikir demikian agar aku tidak membencinya, karena jika Ibu membenciku ia tidak mungkin mengajarkan lagu itu padaku.”
“Begitu tiba di Belanda, aku berhasil menemukan rumah kerabat Ayah dengan mudah. Tapi, meminta mereka untuk menerimaku, tidak semudah ketika aku menemukan rumah itu.”
“Kenapa?” tanya Miya dengan penasaran. “Setiba di rumah itu, aku menyerahkan surat yang diberikan Ibu. Kemudian mereka menatapku sinis. Mereka berdebat lama di depanku. Aku memang lahir dan besar di Indonesia, tapi aku bisa mengerti apa yang mereka katakan. Intinya.” Leon terdiam sejenak, ia menggigit bibir bawahnya menahan tangis.
“Mereka tidak sudi tinggal dengan anak yang memiliki keturunan kelas rendah dari negara yang pernah mereka jajah.”
“Kenapa?” tanya Miya dengan penasaran. “Setiba di rumah itu, aku menyerahkan surat yang diberikan Ibu. Kemudian mereka menatapku sinis. Mereka berdebat lama di depanku. Aku memang lahir dan besar di Indonesia, tapi aku bisa mengerti apa yang mereka katakan. Intinya.” Leon terdiam sejenak, ia menggigit bibir bawahnya menahan tangis.
“Mereka tidak sudi tinggal dengan anak yang memiliki keturunan kelas rendah dari negara yang pernah mereka jajah.”
“Leon.” Miya mengusap air mata Leon yang mulai jatuh dari pipinya. “Mereka mengizinkanku menginap semalam. Mereka memberiku makan dan pakaian. Keesokkan harinya, mereka meninggalkanku di panti asuhan anak-anak korban perang tanpa berkata apa-apa. Selama di sana, tidak sedikit donatur yang ingin mengadopsiku. Tapi.. ketika mereka bertanya soal latar belakangku. Banyak dari mereka yang mengurungkan niatnya untuk mengadopsiku. Di negara Ibuku, mereka menolak karena penampilanku. Di negara Ayahku, mereka menolak karena latar belakangku. Kenyataan seperti itu membuatku terus bertanya-tanya.. kenapa aku harus dilahirkan?”
“Tidak. Ini bukan salahmu.” Tanpa sadar Miya berteriak dan air matanya mengalir deras menuruni pipinya yang kemerahan. Leon terus bercerita seolah tak peduli akan tangisan Miya.
“Setahun kemudian, saat usiaku 10 tahun. Datang sepasang suami istri yang cukup terpandang dari London. Mereka ingin mengadopsiku. Demi mendapatkan kesempatan itu, aku berbohong pada mereka. Kemudian mereka membawaku ke London sebagai anak mereka. Demi mendapatkan keluarga yang selalu aku impikan, aku selalu berusaha menjadi anak yang sempurna untuk mereka. Awalnya semua berjalan baik.. sampai hari itu.. hari saat usiaku menginjak 12 tahun.” Mata Leon mulai berkaca-kaca, ia mendongakkan kepalanya menatap langit-langit. Bibirnya berhenti bersuara beberapa saat dan matanya menatap jauh ke masa lalu.
“Setahun kemudian, saat usiaku 10 tahun. Datang sepasang suami istri yang cukup terpandang dari London. Mereka ingin mengadopsiku. Demi mendapatkan kesempatan itu, aku berbohong pada mereka. Kemudian mereka membawaku ke London sebagai anak mereka. Demi mendapatkan keluarga yang selalu aku impikan, aku selalu berusaha menjadi anak yang sempurna untuk mereka. Awalnya semua berjalan baik.. sampai hari itu.. hari saat usiaku menginjak 12 tahun.” Mata Leon mulai berkaca-kaca, ia mendongakkan kepalanya menatap langit-langit. Bibirnya berhenti bersuara beberapa saat dan matanya menatap jauh ke masa lalu.
“Belanda? kenapa Ayah dan Ibu pergi ke sana?” Tanya anak laki-laki berparas manis kepada pelayannya. “Tuan dan nyonya pergi untuk menghadiri acara amal di panti asuhan anak-anak korban perang.” jawab pelayan itu lembut sambil membentuk pita besar yang manis di kerah baju tuan mudanya. “Apa mereka pergi ke tempatku dulu?”
“Mmm sepertinya begitu.”
“Kenapa Ayah dan Ibu tidak mengajakku?” Tanya anak laki-laki itu dengan nada sedikit kesal.
“Hehehe.. tuan dan nyonya tidak ingin membuat tuan muda melihat rumah masa lalu tuan, karena rumah tuan sekarang adalah di sini.” jawab pelayan itu sambil mengusap lembut rambut tuannya dan tersenyum ramah.
“Mmm sepertinya begitu.”
“Kenapa Ayah dan Ibu tidak mengajakku?” Tanya anak laki-laki itu dengan nada sedikit kesal.
“Hehehe.. tuan dan nyonya tidak ingin membuat tuan muda melihat rumah masa lalu tuan, karena rumah tuan sekarang adalah di sini.” jawab pelayan itu sambil mengusap lembut rambut tuannya dan tersenyum ramah.
“Orangtua angkatku pergi ke panti asuhan tempatku dulu berada. Awalnya aku kesal karena mereka tidak mengajakku, tapi.. setelah pelayan menceritakan alasannya, aku merasa baik-baik saja. Mereka peduli dan sangat sayang padaku, begitu yang ku pikirkan.”
“Kalau mereka sayang dan peduli padamu, kenapa Leon merasa sedih?” tanya Miya dengan penasaran.
“Itu karena.. apa yang ku pikirkan tentang mereka ternyata salah.” jawab Leon sambil tersenyum.
“Sa-lah.” ucap Miya dengan wajah heran karena melihat Leon yang tiba-tiba tersenyum.
“Ya, semuanya salah. Setelah mereka kembali dari Belanda, sikap mereka berubah. Mereka menjadi dingin padaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi.. Sampai malam itu tiba.”
“Kalau mereka sayang dan peduli padamu, kenapa Leon merasa sedih?” tanya Miya dengan penasaran.
“Itu karena.. apa yang ku pikirkan tentang mereka ternyata salah.” jawab Leon sambil tersenyum.
“Sa-lah.” ucap Miya dengan wajah heran karena melihat Leon yang tiba-tiba tersenyum.
“Ya, semuanya salah. Setelah mereka kembali dari Belanda, sikap mereka berubah. Mereka menjadi dingin padaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi.. Sampai malam itu tiba.”
“uhuk.. uhuk.”
“Ayah Ibu.. Aku di sini. Aku di sini. Ayah Ibu.. Selamatkan aku. Ayaaaahhh.”
“Siapa saja uhuk.. uhuk.. ku mohon.. aku di sini.. uhuk.. uhuk.” Seorang anak laki-laki terbangun dari tidurnya, dadanya terasa sesak dan sulit bernapas. Ia membuka matanya melihat keadaan kamarnya yang dipenuhi asap pekat. Dirinya panik dan mencoba untuk ke luar. Namun, sekeras apa pun ia berusaha, tetap saja tidak ada siapa pun yang datang mendengar teriakannya. Lambat laun suaranya pun mulai hilang. “Ku mohon.. tolong.. a-ku.”
“Ayah Ibu.. Aku di sini. Aku di sini. Ayah Ibu.. Selamatkan aku. Ayaaaahhh.”
“Siapa saja uhuk.. uhuk.. ku mohon.. aku di sini.. uhuk.. uhuk.” Seorang anak laki-laki terbangun dari tidurnya, dadanya terasa sesak dan sulit bernapas. Ia membuka matanya melihat keadaan kamarnya yang dipenuhi asap pekat. Dirinya panik dan mencoba untuk ke luar. Namun, sekeras apa pun ia berusaha, tetap saja tidak ada siapa pun yang datang mendengar teriakannya. Lambat laun suaranya pun mulai hilang. “Ku mohon.. tolong.. a-ku.”
“Malam itu aku terbangun dengan asap pekat yang memenuhi kamarku. Dari bawah pintu samar-samar aku lihat cahaya oranye. Aku sangat takut dan panik. Aku berlari ke arah pintu, tapi aneh, pintu itu terkunci. Lalu aku berlari ke arah jendela, tapi.. jendela itu tertutup dengan papan-papan tanpa celah sedikit pun. Aku semakin panik, aku berusaha mendobrak pintu dan papan yang menutupi jendela itu dengan sekuat tenaga sambil berteriak minta tolong. Tapi, semuanya sia-sia.. tidak ada satu pun orang yang datang. Tenagaku pun mulai habis, api semakin membesar dan aku mulai merasakan hawa panas yang membakar tempatku berada.”
“Lalu aku bangkit dengan sisa tenaga yang ku miliki, dan mendekati tempat tidurku. Sambil melihat semuanya yang terbakar, aku menarik selimutku dan berusaha untuk tidur kembali. Saat itu aku berharap semua ini hanya mimpi. Saat terbangun pagi nanti.. aku berharap akan ada seseorang yang mendengar dan peduli padaku. Tidak lama setelah itu.. aku pun tertidur.” Miya menangis tanpa suara, air matanya mengalir deras mendengar kisah tragis yang dialami Leon. Ia sedikit tidak percaya. Namun, apa yang dialaminya belakangan ini, semuanya memang sangat tidak masuk akal. Keberadaan Leon, masa lalu Leon, dan cahaya biru yang menyelamatkannya sekarang, semuanya tidak masuk akal.
“Miya menangis untukku? Terima kasih banyak. Miya orang pertama yang menangisi kematianku.” Sambil berucap demikian dengan senyumnya, Leon mengusap air mata Miya dan melanjutkan kisah tentang dirinya. “Aku terbangun di antara puing-puing yang terbakar. Sambil menatap sekeliling, aku melihat ayah, ibu, dan beberapa orang lainnya yang mengerumuni tempat itu. Saat itu aku benar-benar gembira melihat mereka. Aku berlari dan mencoba memeluk ibu, tapi.. tubuhku malah menembusnya. Suaraku juga tidak dapat didengar siapa pun lagi. Aku hanya bisa melihat mereka yang menatap puing-puing dan berlalu pergi tanpa menitikkan air mata setetes pun.”
“Setelah menjadi hantu.. aku tidak tahu harus apa. Jadi, aku terus mengikuti dan tinggal bersama ayah dan ibu. Aku makan bersama, minum teh bersama, dan menjalani rutinitas seperti ketika aku masih hidup. Aku melakukan itu semua meskipun mereka tidak menyadari keberadaanku. Aku lakukan itu karena aku sangat menyayangi dan masih ingin bersama mereka. Tapi, dari semua hari yang dilewati.. tidak sekali pun ayah dan ibu bersedih, bahkan menangis dan merasa kehilangan karena kematianku. Awalnya aku tidak peduli. Sampai aku mendengar sendiri dari mulut mereka.. kata-kata yang menyakitkan.”
“Kalau saja anak itu tidak berbohong, pasti dia masih hidup sampai sekarang.” ucap wanita berambut pirang pada suaminya. “Untuk apa kau mengingat anak itu lagi. Itu semua salahnya, dia menipu kita dan membiarkan kita membesarkan anak keturunan kelas rendah dari negara yang pernah dijajah. Ini menyangkut status dan kehormatan pewaris keluarga ini. Berani sekali dia menipu kita tentang statusnya.”
“Kau benar, dia bisa saja menjelekkan nama baik keluarga ini.” sahut wanita pirang itu sambil tersenyum pada suaminya. “Lagi pula, sebentar lagi kita akan mempunyai anak kita sendiri.” ucap sang suami sambil mengecup dahi dan mengelus lembut perut istrinya. Sementara itu, anak laki-laki yang tak terlihat hanya bisa diam terpaku. Tubuhnya menggigil hebat, ia tidak pernah merasa sedingin ini sebelumnya.
“Mereka membuatku seolah mati dalam kebakaran. Kematian yang mereka buat akan lebih mudah menghapus keberadaanku sebelum orang lain tahu tentang statusku yang sebenarnya, dengan begitu.. kehormatan keluarga mereka tidak akan tercoreng. Setelah tahu tentang kenyataan itu, aku pergi ke mana pun tanpa tujuan, dan lama kelamaan aku semakin terbiasa dengan keadaanku yang sekarang.” Leon mengakhiri ceritanya dengan tersenyum lega. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa menceritakan semuanya pada orang lain yang bisa mendengar dan melihat dirinya, dan hal tersebut berhasil membuat beban di hatinya berkurang cukup banyak. Sementara Miya terus terdiam, gadis itu tidak tahu harus berbuat apa.
“Miya tidak perlu menghiburku, aku sudah baik-baik saja sekarang. Setelah lama mencari dan hampir mustahil, aku menemukan seseorang yang mendengar dan peduli padaku. Kalau bukan karena lagu itu.. aku tidak akan bertemu dengan Miya. Dan.. itu semua berkat Ibuku. Lagu yang Ibu ajarkan sudah menyalamatkanku. Dia membuatku bertemu denganmu dan mengabulkan harapan terakhirku. Aku tahu sekarang.. dia tidak pernah membenciku.” Tubuh Leon semakin terlihat transparan, namun ia tetap berkata dengan wajah yang tenang dan damai.
“Ja-jadi Leon akan pergi sekarang?”
“Aku tidak bisa selamanya menjadi hantu. Miya.. masih banyak orang yang peduli padamu. Mereka tidak seperti yang kau pikirkan.”
“Ta-tapi.. bagaimana, bagaimana aku mengetahuinya.” Leon tersenyum lembut dan mendekati Miya yang gemetar ketakutan. Ia mengecup dahi Miya sama seperti sebelumnya.
“Beranilah.. jangan bersembunyi dan mencari seseorang sepertiku di atas loteng lagi. Katakan dan perlihatkan dirimu, biarkan orang lain melihat seperti apa dirimu. Miya pintar dan sangat manis.. jangan pernah membenci dirimu hanya karena kau tidak berani berbaur dengan yang lainnya. Aku yakin.. Miya bisa melakukannya.”
“Aku tidak bisa selamanya menjadi hantu. Miya.. masih banyak orang yang peduli padamu. Mereka tidak seperti yang kau pikirkan.”
“Ta-tapi.. bagaimana, bagaimana aku mengetahuinya.” Leon tersenyum lembut dan mendekati Miya yang gemetar ketakutan. Ia mengecup dahi Miya sama seperti sebelumnya.
“Beranilah.. jangan bersembunyi dan mencari seseorang sepertiku di atas loteng lagi. Katakan dan perlihatkan dirimu, biarkan orang lain melihat seperti apa dirimu. Miya pintar dan sangat manis.. jangan pernah membenci dirimu hanya karena kau tidak berani berbaur dengan yang lainnya. Aku yakin.. Miya bisa melakukannya.”
“Leon.”
“Aku akan senang jika Miya tetap berusaha dan terus hidup. Terima kasih banyak, Miya.” Sambil tersenyum dan mengatakan kalimat terakhirnya, tubuh Leon menghilang dan menguap perlahan bersama udara. Senyuman terakhir Leon yang dilihat oleh Miya, sukses membuat gadis itu terpaku dalam diam. Timbul sedikit penyesalan dalam hatinya karena ia belum sempat mengucapkan selamat tinggal. Namun, kata-kata terakhir yang diucapkan seseorang di atas loteng itu, memberi gadis itu kekuatan. Ia bangkit dari duduknya dan berteriak sekuat tenaga.
“Aku.. aku, tidak mau mati, siapa saja aku di sini!!!” Beberapa pemadam yang sejak tadi mencari keberadaan gadis itu, segera bergegas berlari ke arah sumber suara. Tidak lama kemudian, Miya berhasil diselamatkan. Api yang mengepung rumah itu pun berhasil dipadamkan, dan anak laki-laki di loteng itu benar-benar pergi untuk selamanya.
—
Krriinngg…
Miya matsumoto, gadis berusia 17 tahun yang akrab disapa Miya itu terbangun dari mimpi panjangnya. Ia menguap sambil mengusap pelupuk matanya untuk mengembalikkan kesadarannya. “Miyaaaaa.. ayo bangun, nanti kau ketinggalan bus.” ibunya berusaha membangunkan Miya yang sebenarnya sudah terbangun dari balik pintu kamarnya. Gadis itu bangkit dan berjalan ke jendela. Sambil merasakan angin pagi yang menerpa wajahnya, ia mengepalkan kedua tangannya dan menatap langit dari kejauhan. “YOSH.. hari ini pun aku juga akan berjuang.” Gadis itu menyemangati dirinya dan orang itu lewat jendela kamarnya.
“Miya, kau sudah bangun belum?”
Kali ini ibunya membangunkan dari dalam kamarnya. Ibunya masuk dan memastikan sendiri putri kesayangannya itu sudah bangun atau belum. Miya menoleh kaget karena tiba-tiba ibunya sudah berada di kamarnya. “Kalau tidak cepat nanti bisa ditinggal Study tour.” ucap ibunya sambil sedikit mengomel. “Iya iya aku tahu.” jawab Miya sambil berjalan terhuyung ke arah ibunya. “Ini. Mandi dulu, setelah itu sarapan.” ibunya berkata lagi sambil memberikan handuk pada putrinya.
Miya tersenyum manis dan meraih handuk tersebut dan memeluk ibunya tiba-tiba, “Aku dan Leon sayang Ibu.”
“Leon?” Setelah berkata demikian, Miya langsung berlari ke kamar mandi meninggalkan ibunya yang diam kebingungan.
“Leon?” Setelah berkata demikian, Miya langsung berlari ke kamar mandi meninggalkan ibunya yang diam kebingungan.
The End
Cerpen Karangan: Asiah Musthofawi
Comment Now
0 comments