CERPEN ROMANTIS : Snowy Love

Posted
Snowy Love
Hasil gambar untuk MUSIM DINGIN LAGI GALAU
Winter. Musim yang sangat aku suka. Dimana banyak orang keluar rumah hanya sekedar untuk berjalan-jalan menikmati udara yang dingin ini ataupun bermain ice skating.
Sama halnya dengan aku. Hari ini aku keluar dari flatku hanya untuk menghirup udara yang dingin ini. Semenjak aku menjadi mahasiswa dari salah satu universitas terkemuka di London, aku pun seperti zombie berjalan saja. Kutempelkan kedua earphoneku dikedua telingaku.
I don’t want a lot for Christmas
There is just one thing I need
I don’t care about the presents
Underneath the Christmas tree
I just want you for my own
More than you could ever know
Make my wish come true oh
All I want for Christmas is you
I just want you for my own
More than you could ever know
Make my wish come true
All I want for Christmas is you
I won’t ask for much this Christmas
I won’t even wish for snow, and I
I’m just gonna keep on waiting
Underneath the mistletoe
I won’t make a list and send it
To the North Pole for Saint Nick
I won’t even stay awake
To hear those magic reindeer click
’Cause I just want you here tonight
Holding on to me so tight
What more can I do
Oh, Baby all I want for Christmas is you
All the lights are shining
So brightly everywhere
And the sound of childrens’
Laughter fills the air
And everyone is singing
I hear those sleigh bells ringing
Santa won’t you bring me
The one I really need
Won’t you please bring my baby to me quickly
I don’t want a lot for Christmas
This is all I’m asking for
I just wanna see my baby
Standing right outside my door
I just want you for my own
More than you could ever know
Make my wish come true
Baby all I want for Christmas is you
All I want for Christmas is you, baby
(All I want for Christmas is you by Mariah Carey ft Justin Bieber)
Yeah, mendengarkan lagu yang bernuansa Natal memang selalu menaikkan mood-ku.
"Leviana?" Sapa seseorang kepadaku.
"Yes? Ya Tuhan! Apakah itu kau Billy?" Ucapku tidak percaya. Billy Vazerta Glawrey, laki-laki yang selalu memberikan warna dihidupku.
"Yes! It's me! Hey, aku kangen sekali dengan engkau, Leviana." Ucapnya seraya mengacak-ngacak rambutku. Hanya dia saja yang boleh mengacak-ngacak rambutku ini! Kalau yang lain? BIG NO!
"Kapan kau kembali ke London? Bagaimana denganmu selama kau kuliah di Jerman?" Ucapku seraya berjalan-jalan disekitar Hyde Park bersama Billy.
"Biasa saja. Karena tidak ada kau yang bisa kujahili Ana!" Ucapnya seraya mengerlingkan sebelah matanya.
"Sial. Kau tahu darimana kalau aku tinggal di London?" Tanyaku balik.
"Dari ibumu. Seperti biasa, ibumu langsung menggila saat kutelepon." Hahaha. Memang benar, ibuku sangat menyukai Billy sampai-sampai dia sudah menganggap Billy seperti anaknya saja.
Aku selalu merindukan saat-saat seperti ini. Tinggal di kota impianku, menikmati musim dingin bersama orang yang kucintai walau kutahu dia tidak mungkin menyukai aku. Tidak apa, aku sudah sering memendam perasaanku terhadap dia...
"Hey! Melamun saja! Apakah suasana dingin ini membuatmu jadi sering melamun huh?" Iya, aku sedang melamunkan kamu,Billy.
"Perhaps. Cepat sekali waktu berjalan. Sepertinya, baru saja kemarin aku bermimpi ingin kuliah disini, eh...sekarang sudah disini. Tuhan itu baik ya?" Ucapku sambil tersenyum bahagia.
"Ya. " Ucapnya . Tepat setelah itu, titik-titik putih pun jatuh tepat dihidungnya.
"Hahaha..Bil, dihidungmu itu." Ucapku seraya menunjuk kearah hidungnya yang mancung itu.
"Eh.. udah turun salju ya? Mind to have a cafe time?" Tawarnya.
"Sure. Why not?"
In Blueprint cafe...
"Kau mau memesan apa? Aku yang bayar." Ucapnya setelah sang waitress menyerahkan menu makanannya.
"Emm..Chicken curry and hot greentea latte. It's getting cold." Ucapku sambil merekatkan mantelku.
"Okay then. Aku memesan yang sama dengan kau saja deh." Ucapnya seraya memanggil waitress yang sedang berjalan.
"Is green eyes and freckles in your smile
In the back of my mind making me feel right" Terdengar sepenggal lirik lagu Taylor Swift. Green eyes. like he has.
"So. Sudah semester keberapa kau? Kau kuliah kedokteran kan? Seperti yang ayah dan ibumu inginkan?" Ucapnya membuyarkan lamunanku.
"Sudah semester ke 7, sebentar lagi aku akan lulus kok. Tenang, masih ada waktu untuk menikahiku. Hahaha." Ucapku bercanda. Well, sebenarnya aku ingin seperti itu.
"Kau sudah pintar ngegombal sekarang ya? Siapa yang mengajari kau hah?" Ucapnya sambil tersenyum. Kalian tahu apa yang kusuka saat ia tersenyum? Matanya. Mata hijaunya selalu berbinar-binar saat ia tersenyum.
"Kaulah, siapa lagi memang yang suka mendekati wanita dengan cara seperti itu. Eh." DEG! Ap...apa yang ia lakukan?
"Maksudmu dengan mencium seperti itu?" Ucapnya dengan senyuman mautnya.
"You stole my first kiss!" Untung saja dia menciumnya dipipi, apabila dibibir, kubunuh dia. Eh, canda deh.
"Here you are! 2 chicken curries and 2 hot greentea lattes! Happy eating! May you enjoy!" Ucap waitress dan diapun menaruh pesanan-pesanan kami diatas meja.
"Thanks Ms." Ucap Billy.
"My pleasure boy." Yeah, bahkan waitress itupun menggodanya.
"Sekarang, kau masih kuliah atau..." Sebelum aku selesai bertanya dia sudah menjawab duluan.
"Aku sudah kerja Ana. Aku kan 2 tahun lebih tua daripada kau. Kalau aku masih kuliah, mana bisa aku pergi ke London dan membayar makanan ini?" Ucapnya. Wow, dia sudah bekerja? Husband-able banget. Hahaha.
"Wow. Kerja dimana kau?" Akupun meniup-niup hot greentea-ku. Asap pun mengepul didepan mukaku.
"Di Chevrolet sebagai manager. Ya...karena aku baru pemula, makanya aku dimasukkan ke manager dulu. Maaf ya, nanti deh kalau kita udah nikah, aku mungkin udah jadi President disitu. Hahaha." Lucu sekali kau Billy.
"Hahha. Lucu." Ucapku dengan suara tertawa yang dibuat-buat.
Kami pun melanjutkan acara makan kami, karena minumanku tidak habis, jadinya minumanku dibawa pulang.
"Kau kedinginan ya?" Tanpa dikomando, diapun memelukku dengan tubuhnya yang proposional untuk seorang laki-laki.
"He..hey. Tidak apa-apa. Aku sudah cukup hangat kok." Ah Billy, kau selalu sukses membuatku jantungan.
"Sudahlah. Aku tahu kau kedinginan. Hanya 'aku' yang bisa menghangatkan tubuhmu kan." Ucapnya dengan senyum misterius. Apa maksudnya? Jangan-jangan...
"Terserah kau deh. Aku ingin pulang. Untung saja jarak dari flatku kerumahku itu dekat." Mengapa dia semakin mempererat pelukkannya?
"Aku antar kau pulang ya? Sekalian aku ingin bertemu dengan orangtuamu." Ucapnya
"Baiklah."
Ternyata Billy membawa mobil! Dan mobilnya itu bagus sekali. Oh iya, dia kan bekerja disalah satu merek mobil terkemuka di dunia.
"Jadi...rumahmu dimana?" Tanyanya sambil menyetir.
"Nanti kutunjukkan. Kau hanya tinggal mengendarai saja Bil." Ucapku seraya tersenyum.
Kau banyak berubah Ana. Tubuhmu menjadi lebih tinggi, rambut pirangmu yang dibiarkan tergerai indah. Dan sikapmu yang tidak sekaku dulu. Dan mata biru tersebut....ah, melihatnya saja aku sudah meleleh,pikir Billy
.
"Nah, jadi didepan itukan ada portal,kau tinggal belok kanan. Rumahku itu berwarna biru." Ucapku.
"Ha? Oke." Ucapnya. Sepertinya tadi dia melamun.
Knock....knock....knock..."Mom? This is me Leviana.." Ucapku seraya mengetuk pintu rumahku.
"Yess.. Ah Billy! Kau rupanya beneran datang ya? Mari...mari masuk, maaf kalau sedikit berantakan, Leviana belum menghias rumah dengan pohon natal sih." Ucap mamaku. Oh iya ya! Besok kan udah Natal? Waduh...Harus cepat-cepat menghias nih.
"Hahhaa...Kan Leviana sibuk tante. Kalau boleh,saya bantu saja ya menghias rumahnya?" Tawar Billy.
"Ah.. boleh! Boleh! Kalau begitu. Levi, kau mengambil pohon Natal yang ada digudang dan kau Billy, bawa semua ornamen-ornamen untuk pohonnya. Aku akan membuatkan kalian cookies kesukaan kau dan Levi." Ucap ibuku. Hufft, baru aja pulang, udah disuruh-suruh.
"Baik tante. Ayo Ana, kita ke gudang." Ucap Billy seraya menggandeng tanganku.
"Jagalah Levi,Billy. Tante sangat berharap kamu itu jodohnya Levi." Gumam ibuku.
Digudang...
"Baiklah. Begini saja, kaukan perempuan,sedangkan aku laki-laki. Aku akan membawa pohon natal tersebut,dan engkau membawa ornamen-ornamennya. Deal?" Tawar Billy.
"Deal! Terimakasih banyak ya Billy." Ucapku tulus.
"Sama-sama Ana." Aku senang dengan cara ia memanggil namaku. Ana. Semua orang memanggilku dengan sebutan 'Levi' dan hanya Billy saja yang memanggilku 'Ana'.
Diruang tamu....
"Sepertinya lebih bagus dipasang disudut sama Bil. Dekat jendela. Jadikan kalau salju turun pohonnya itu menjadi lebih enak dilihat." Ucapku.
"Baiklah. Hup. Lumayan besar pohon natalnya." Ucap Billy seraya menurunkan pohon natal dari pundaknya.
"Dan..sekarang giliranku menghias pohonnya! Dududududu...dududu...dudu.." Gumamku seraya menyanyikan lagu 'Deck The Hails'.
"Bintangnya aku taruh dibagian atas. Lebih bagus bintang atau malaikat ya?" Tanyaku pada diri sendiri.
"Malaikat. Lebih bagus malaikat Ana." Jawab Billy yang berada disebelahku.
"Baiklah." Ucapku seraya menaruh ornamen malaikat tersebut, Dilanjutkan dengan ornamen-ornamen lainnya,
20 menit kemudian...
Tadaa! Pohon natalnya indah sekali ya Tuhan.Lampu-lampu yang berkelap-kelip. Lagu-lagu yang dihasilkan dari lampu-lampu tersebut. Hiasan yang berkilauan.
"Jangan menangis Ana." Dia bahkan tahu kalau aku pasti akan menangis melihat pohon natalnya.
"Aku hanya terharu Bil..." Ucapku seraya menghapus airmata dipelupuk mataku.
"Billy. Levi. Mari kita makan cookiesnya. Wow." Ucap ibuku seraya menatap kearah pohon natalnya.
"Wangi sekali cookiesnya." Ucapku dan Billy seraya memakan cookies buatan ibuku. Cookies buatan ibuku memang tiada bandingnya! Enak sekali.
"Jadi. Ceritakan selama engkau di Jerman Billy." Ucap ibuku semabri ia duduk didepan kami berdua. Billy pun menceritakan semuanya. Aku hanya bisa tersenyum mendengarkan Billy dan ibuku tertawa. I love to see my lovely person happy.
"Wow. Kau itu masih muda dan sudah menjadi manager disalah satu perusahaan mobil terkemuka? Bagaimana itu Levi? Masa kau tidak tertarik kepada Billy iini?" Goda ibuku.
"Nanti dulu ah mom, akukan mesti fokus ke kuliahku dulu." Yes! I'm blushing!
"Iya tante. Si Ana mendingan fokus kuliahnya dulu. Kan biar jadi dokter yang paling cantik sedunia." Yeah, terus saja menggodaku Billy Vazerta Glawrey.
"Haha. Aku mendukung sekali kalau akhirnya kalian menjadi pasangan hidup. Dokter dan seorang manager di perusahaan mobil terkenal. Kurang perfect apa coba?" Hentikan mom.
"Mom." Ucapku memperingatkan bahwa topik pembicaraannya sudah melewati tahap 'normal'.
Malam harinya...
"Billy. Kalau kau mau, kau boleh menginap disini kok. Kebetulan ada 1 kamar untuk tamu." Ucap ibuku setelah ia merapi-rapikan ruang tamu.
"Baiklah tante. Terima kasih." Ucap Billy.
"Dan juga, sudah ada baju untukmu ya, Levi sudah menyiapkan saat engkau sedang mandi tadi." Teriak ibuku lagi.
"Terima kasih banyak mam." Ucap Billy sopan.
"No problem kid." Sahut ibuku.
Billy ya? Hahaha. Cowok keren itu, selalu saja membuatku tersenyum. Aku menyukai semua yang ada padanya. Mata hijaunya, bibirnya,rambutnya, semuanya aku suka. Seandainya Billy tahu perasaanku. Ah..tidak..tidak..dia tidak boleh mengetahui perasaanku, aku takut dia akan- sebelum aku berpikir lebih jauh, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku.
"Wait for a minute. Eh Billy?" Wajah Billy pun sekarang berada tepat didepanku. Bahkan, hanya dengan memakai kaus oblong dan celana olahraga, Billy masih terlihat keren.
"Bolehkan aku masuk?" Tanpa dikomando, Billy langsung saja tiduran dikasurku. Well, apabila ibuku lewat, bisa berpikir yang macam-macam dia.
"Sedang apa kau malam-malam begini? Malam ini dingin sekali dan kau masih memakai kaus oblong? Gila." Ucapku melihatnya.
"Biarin. Lah,kau sendiri belum tidur. Impaskan jadinya?" Ucapnya balik.
"Whatever!" Ucapku dengan tatapan kembali keluar jendelaku. Titik-titik putih pun mulai berjatuhan.
"Malam Natal ya hari ini." Tiba-tiba saja dia sudah berada tepat dibelakang punggungku. Dekat sekali. Please Bil, how long will you treat me like this?
"Iya. beberapa menit lagi Natal." Ucapku dengan suara bergetar. Bukan karena dingin, tapi tiba-tiba tangan kekar yang melingkar dipinggangku.
"Kau tahu Ana? Aku sering sekali berimajinasi tentang, betapa romantisnya Hari Natal itu." Ucapnya dengan tangan masih melingkar dipinggangku.
"Aku juga. Menurutku, Natal itu lebih romantis dibandingkan hari Valentine." Please Bill, kalau kau masih melingkarkan tanganmu dipinggangku, aku bisa pingsan.
"You're beautiful." Ucapnya pelan sekali. Tapi aku masih bisa mendengarnya.
"Thank you." Aku tidak mau terlalu mengartikan terlalu jauh makna dari kalimat yang ia sebutkan tadi.
Silent night, holy night
All is calm, all is b’right
Round you Virgin Mother and Child
Holy Infant so tender and mild
Sleep in heavenly peace
Sleep in heavenly peace
Silent night, holy night
shepherds quake at the sight
glories stream from heaven afar
heavenly hosts sing, "Alleluia!"
Christ, the Savior is born
Christ, the Savior is born
Silent night, holy night
Son of God, love's pure Light
radiant beams from Thy holy face
with the dawn of redeeming grace
Jesus, Lord, at Thy birth
Jesus, Lord at Thy birth
(Silent Night- Mariah Carey)
"Baiklah. Kau sepertinya sudah mengantuk. Tidurlah, besok akan menjadi hari bersejarah dalam hidupmu." Ucapnya seraya melepaskan pelukannya di pinggangku. Hari bersejarah katanya?
"What do you mean? Historical day for me?" Ucapku dengan tatapan bertanya.
"Sudahlah. Goodnight Ana!" Cup! Untuk kedua kalinya dia mencium pipiku. Seketika itu juga kurasakan suhu tubuhku meninggi.
"Goodnight too Billy." Dia pun tersenyum dan menutup pintu kamarku.
Hari bersejarah katanya huh?
Keesokkan harinya...
Hoaamm! YEAHH!!! MERRY CHRISTMAS! HARI INI NATAL! YEYEYE!
"Morning sweety. Merry Christmas." Ucap seseorang. Wait, Billy?
"Merry Christmas too. Eh, kau sudah bangun Billy?" Ucapku dengan masih mengumpulkan nyawa-nyawaku yang masih di alam mimpi.
"Sudah. Malah,aku sudah mandi. Cepat mandi. Lihat tuh, ada iler yang menempel dimulutmu." Segera aku mengecek mukaku kecermin kamarku. Issh, gak ada bekas iler disitu.
"Billy! Orang gak ada iler dimukaku kok! Yasudahlah, aku mandi saja. Kau keluar sana." Ucapku mengusirnya.
"Kenapa aku harus keluar?" Tanyanya (pura-pura) polos.
"Billy! KIta itu bukan suami-isteri. Masa kau mau melihatku berganti baju heh?" Ucapku.
"Bukannya kita 'akan'?" Jangan mencoba menggodaku Mr.Glawrey.
"Cepat keluar! Atau kulaporkan kau kepada ibuku." Ucapku mengultimatumnya.
"Iya..iya..Jangan galak-galak lah, nanti cantiknya hilang loh." Ucapnya sembari keluar dari kamarku.
Diruang tamu..
"Merry Christmas everyone! Here's your present!" Ucap ibuku sembari memberikan kado berwarna hijau untukku dan biru untuk Billy.
"Thanks mom! Merry Christmas too." Ucapku dengan memeluknya erat. I love her so much.
"Thank you Mam, and this is your present." Ucap Billy dengan menyerahkan kadonya kepada ibuku.
"Thank you too. Ngomong-ngomong, kalian mau jalan-jalan dulu diluar? Ibu mau memasak hidangan untuk perayaan nanti malam." Ucap ibuku.
"Baiklah. Bye mom!" Ucapku sembari memakai mantel coklatku.
Pagi yang cerah tapi tetap dingin. Saat ini aku dan Billy pun berjalan-jalan disekitar London Eye. Thames river seperti aliran es yang membeku, banyak orang melakukan ice skating disana.
"Mau ice skating Ana?" Tawar Billy tiba-tiba.
"Mau. Tapi aku tidak membawa sepatu ice skating-ku." Jawabku.
"Kalau begitu, sewa saja!" Ucap Billy dengan antusiasnya menarik tanganku untuk mendekat kearah stand yang menyewakan sepatu-sepatu ice skating.
Aku dan Billy pun bermain ice skating dengan senyum sumringah.
Akhirnya, malam pun datang menyelimuti kota London yang sedang berkelap-kelip dihari nan spesial ini. Aku dan Billy pun bersiap-siap untuk kembali kerumah. pasti ibu sudah selesai menyiapkan segala hidangannya.
"Wanna a ride to London Eye, Ana?" Tawar Billy. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam waktu London.
"Tapi kan kita harus pulang kerumah. Besok aja ya? Kan besok Boxing Day." Ucapku.
"Yakin? Yang kutahu sih, hanya 30 menit kita bisa menikmati London Eye ini. Kira-kira, jam 8 kita sudah sampai rumahlah." ucap Billy. Aku pun menimbang-nimbang perkataannya Billy.
"Okay." Akhirnya akupun mengiyakan ajakannya.
"Tonight, will be you historical day my babe." Gumam Billy.
Indah sekali. Sudah bertahun-tahun aku di London, tapi aku tidak pernah menaiki London Eye ini, walaupun teman-teman kuliahku sering menawarkannya kepadaku. Tibalah kami dibagian paling atas London Eye. Ya Tuhan....ini..perfect. Berada dikota impian,dimusim impian, dan bersama orang yang kucintai.
"Ini yang menjadi impianmu selama inikan? Berada dikota impianmu, dimusim kesukaanmu, dan bersama orang yang kaucintai?" DEG! Apa kalimat terakhir yang ia katakan? Bersama orang yang kucintai? Dia..dia..tahu bahwa aku menyukai dia?
"Tidak usah tegang begitu mukanya Ana. Aku tahu semuanya kok." Ucapnya tenang.
"Ap...apa maksudmu." Ucapku dengan suara yang bergetar. Awkard moment.
"Kau...mencintaiku,bukan?" Ucapnya. Kali ini dia menatapku langsung dengan mata hijaunya itu.
"Kau...kau mengetahuinya darimana? Aku tidak mencintaimu Mr.Glawrey." Ya! Hebat sekali aku! Leviana Christella Fawrey berbohong didepan orang yang ia cintai! Tepuk tangan!
"You cannot lie to me Mrs.Fawrey. Your eyes said the true one."
"Terus. Apa urusannya jika aku mencintai dirimu hah?!" Ucapku dengan suara yang kunaikan beberapa oktaf. untung saja Billy memesan tempatnya dengan harga VIP,jadi hanya ada aku dan dia didalam kapsul London Eye ini.
"Jelas ada. Aku bersyukur kalau kau mencintaiku. Kau tahu Ana?-" Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kini aku bisa melihat mata hijaunya yang bersinar itu.
"Ap..apa?" Kenapa gugup disaat seperti ini sih?
"Aku suka kedua mata birumu yang selalu memberikan ketenangan bagi setiap orang. Aku suka rambutmu. Aku suka gaya berbicaramu yang ceplas-ceplos. Aku suka semua bagian dirimu, termasuk juga hatimu." DEG! Apa...apakah dia, mempunyai perasaan yang sama terhadapku?
Tidak terasa, 30 menit pun berlalu. Ah! Kenapa harus selesai sih? Saat kami keluar dari kapsul London Eye, titik-titik putih itupun menjatuhkan dirinya lagi. Yeah, perfect moment if Billy asked me to be his girlfriend. Keep dreaming Leviana!
"Sebentar, aku ingin menyerahkan ini kepadamu. Silahkan kau buka." Ucapnya seraya menyerahkan kado berwarna biru laut.
"In...ini...ini indah sekali Billy. Kau tahu darimana kalau aku menyukai bola kristal seperti ini?" Ucapku dengan mata yang bebinar-binar melihat bola kristal yang Billy berikan. Indah.
"Memang kita sahabatan sudah berapa lama sih Ana?" Sindir Billy.
"Hehehe. Kau masih mengingat itu rupanya."
*flashback*
"Kau tahu Bil? Hari apa yang sangat kusukai?" Ucapku saat masih di Junior High School
"Valentine? Semua perempuan menyukai Valentine." tebak Billy yang sudah di Senior High School.
"Salah. Justru aku menyukai Hari Natal. Menurutku, Natal lebih indah dan romantis daripada Valentine, apalagi jika Natalnya terjadi di London. My dream city." Ucapku.
"Wow. Kau ternyata orangnya anti-mainstream ya? Tapi, kau pasti suka diberikan bunga kan?" Tebaknya lagi.
"Tidak juga. Aku lebih suka diberikan bola kristal yang isinya ada salju-saljunya." Ucapku dengan mata berbinar
*Flashback off*
"Jadi? Bagaimana?" Tanyanya membuyarkan lamunanku.
"Aku suka sekali bola kristalnya! Suka sekali!" Ucapku sambil mengocok-ngocok bola kristal tersebut.
"Bukan itu Leviana." Dan tiba-tiba kami berhenti tepat di Primrose Hill. Banyak sekali keluarga yang merayakan Natal bersamanya dibukit ini.
"Leviana Christella Fawrey. Aku mengatakan ini jujur dari hatiku yang paling dalam. Kalau sebenarnya aku sudah mempunyai isteri dan 2 anak yang cantik dan tampan seperti aku. Kuharap kau kapan-kapan mau mengunjungi mereka di Jerman." Ucap Billy.(a/n: Hehehe, gak deng, ini hanya sebagai selingan aja. Jangan terlalu serius atuh bacanya. Hehehe. Okay! Let's read again!)
"Before I met you, I didn't know what love is. But, everytime I spent time with you, I was just want...want you to be mine. Would you, Laviana?" Ucapnya sembari menggenggam tanganku. I'm speechless.
"B..but Billy. I'm still in college. And my mum didn't let me in one relationship with anyone until I finish my college." Ucapku sembari menunduk. Tiba-tiba, ada satu jari yang mengangkat daguku. Billy's.
"Hey. Don't feel sad. I like your sparkling eyes, so don't turn off that sparks on your beautiful eyes." Aku ingin menangis. Billy...mengapa engkau begitu sempurna bagiku?
"Okay..okay.. " Ucapku sambil menghapus air mata yang siap mengalir.
"I'll be patiently wait darling. Just 1 semester left huh? Not too long. The time can't bothering my love to you Ana." Ucapnya sembari tersenyum.
"Oh Billy... Why you're always so irresistible to me? I love you too Billy." Tidak kuasa aku menahan gejolak perasaan dihatiku ini.
"Here. Hug me." Ucapnya sembari memelukku. Pelukkan ini....
Just wait for me Billy. I won't dissapoint you.
Finally. My fairytales story ended with sweet. London.Winter. And, you, Billy.
Share on Google+

You Might Also Like

Comment Now

0 comments