cerpen romantis : Dia Seperti Bayanganku

Posted
Dia Seperti Bayanganku
Oleh : Rachel Donada
Hasil gambar untuk dia seperti bayanganku
Satu bucket bunga mawar putih kesukaan ku kini ada dihadapanku, 3 tahun sudah ia selalu memberikan bunga itu padaku disetiap minggunya. Tanpa merasa bosan juga tanpa merasa terbebani.
Ya, aku bisa melihat ekspresinya ketika datang ke apartemen ku, senyuman manis dari wajahnya itu sangat khas untukku sehingga membuat jantung ku tak berhenti berdebar.
''Ada apa Nab?? Kenapa diam??'' Bibir mungil itu berbicara--mempertanyakan sikap ku yang sedari tadi hanya diam terpaku menatapnya di depan pintu.
Sungguh, rasa diam ku bukan karena terkejut oleh keromantisannya membawakan bucket bunga kesukaanku atau ketampanannya itu.
fyuuh.. Andai saja kamu bisa lebih mengerti sayang ku..
Mata coklat itu masih tetap menatap ku ''Apa kamu bosan dengan bunga ini??'' tambahnya dengan memiringkan kepalanya ke kanan dan menyodorkan bunga itu lebih maju kehadapanku.
Aku menggaruk garuk kepala yang tak merasa gatal sama sekali. Ntah mengapa aku merasa seperti baru mengenal pria ini, canggung begitulah rasanya.
''Aku suka tapi aku sudah bilang kamu ngga perlu ngelakuin ini terus'' Kataku sambil meraih bunga indah itu dari tangannya dan berjalan kedalam bersamanya
''Gapapa, aku senang melakukannya pada calon istriku'' Sambil menghempaskan bokongnya di sofa coklat.
Mataku berputar, seakan tak percaya. Akankah benar dia menjadi suami ku kelak?? Aku harus menggunakan perasaan seperti apa? Senangkah? Atau sedihkah?
''Sudahlah Gio apa kamu masih belum mengerti kalau..'' Kataku.
''Aku gamau ngebahas itu, sekarang kamu harus siap siap, kita akan makan malam diluar'' Jawabnya dengan tatapan tajam.
Sial, aku benci dengan sikapnya yang suka memotong pembicaraan.
Kaki ku melangkah menuju ruang ganti dan masih terbayang bayang oleh sikapnya.
Aku hanya tak habis pikir, kenapa dia begitu mengatur seperti ini bahkan hingga dress hitam yang ku kenakan sekarang sampai dia yang harus membelikannya hanya untuk dinner bersama.
Oh Tuhan.. Dress ini sungguh ketat sehingga membuat lekuk tubuhku benar benar terlihat tapi aku menyukainya. Dress ini sungguh cantik untuk ku kenakan.
Setelah selesai ku poles wajahku sesederhana mungkin, aku langsung menghampirinya.
Kulihat Gio masih duduk di sudut sana, pandangan yang semula menatap layar ponselnya kini teralihkan padaku karena hentakan high heels 10cm yang ku kenakan.
''Nabila kamu cantik sekali'' Pujinya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
''Aku semakin tidak sabar'' Senyumnya merekah, dia terlihat gembira sekali.
Aku sangat mengenali wajah itu ''Ayo kita berangkat'' Menarik lembut lengan ku dan membawa ku keluar apartement yang lagi lagi itu diberikannya untukku. Ya hanya untukku.
Mobil audi hitam membawa kami ke tempat tujuan. Sangat nyaman untuk ditumpangi, namun tidak senyaman untukku didalamnya.
Bagaimana tidak, Sepanjang jalan kami sama sama mengisi waktu dengan berdiam diri. Aku dengan pikiranku dan kamu dengan pikiranmu. Gio sibuk dengan menyetir sedangkan aku sibuk melihat suasana kota Jakarta.
Syukurlah.. malam ini tidak begitu macet seperti biasanya, perjalanan pun lancar.
Bayangkan jika itu terjadi, harus apa aku??
Berdiam diri lebih dari 20 menit?? Atau membuka topik pembicaraan?? Tidak, Aku sedang malas berbicara..
Mobil audi akhirnya terhenti disalah satu restoran bergaya Eropa Klasik. Aku belum pernah mengenali restoran ini, namun jika dilihat dari luar sepertinya restoran ini hanya untuk kalangan elit menengah keatas.
Aku pun mengangguk anggukan kepala ku sendiri seakan aku sedang menganalisisnya.
Gio turun dari mobilnya dan segera membukakan pintu lalu menyodorkan tangannya untuk menuntunku keluar dari mobil tersebut.
Sungguh luar biasa.. Kedatangan kami langsung disambut hangat oleh beberapa pelayan yang memang menunggu di depan pintu restoran ''Selamat datang tuan dan nyonya''
Langkah demi langkah kami masuk. Ya Tuhan.. Ornamen ornamen Eropa, pencahayaan lampu yang sengaja dibuat redup ditambah lembutnya iringan piano menambah suasana pada malam itu.. Sungguh mewah dan romantis, rasanya seperti kisah nyata pada cerita dongeng. Meskipun restoran ini terlihat sepi, ntah karena sengaja dipesan oleh Gio atau memang tidak laku karena terlalu elit, aku sama sekali tidak mempedulikan itu.
''Apa kamu suka?'' katanya, saat kami duduk disalah satu meja yang sudah dikhususkan untuk kami berdua.
''Ya aku suka sekali, tapi sudahlah jangan berlebihan'' kataku dengan membalas tatapannya itu.
Dia mencondongkan wajahnya kehadapanku, membuatku bisa melihatnya lebih dekat.
''Tidak.. Malam ini akan jadi milik kita berdua''
Ya Tuhan. Apa yang ingin dia lakukan kepadaku?
Dia pun menyeringai sambil memposisikan tubuhnya semula dan tiba tiba datanglah seorang pelayan dengan membawakan trolley (kereta hidangan) untuk kami berdua. Sungguh bermacam macam makanan telah dipesannya dari makanan pembuka hingga penutup dan juga beberapa minuman.
Astaga.. Serakus itukah kami bisa menghabiskan itu semua.. Aku hanya melihat semua makanan yang dikeluarkan oleh sang pelayanan yang ramah dan sigap itu, lalu ia meninggalkan kami hanya untuk berdua.
''Ayo makan, aku ngga mau kamu cuma melihatnya''
aku pun mengangguk menyetujui perkataanya. Hmm.. Makanan ini benar benar lezat, bahkan aku tak tau apa nama makanan ini karena aku belum pernah mengenal sebelumnya, ditambah alunan harmony piano yang dimainkan seorang pria paruh baya berjas hitam, benar benar luar biasa sempurna untuk hidupku.
Namun tiba tiba ditengah kenikmatan itu, Gio menyelesaikan makannya dan langsung menatapku dengan ekspresi begitu lembut.
''Ada apa?'' tanya ku membuatku tidak selera makan karena tatapannya membuat jantungku tak karuan.
''Tidak, aku hanya senang melihatmu makan. Kamu tau? Aku menyiapkan ini cuma buat kamu karena aku mau malam ini hanya untuk kita berdua '' begitulah penjelasanya.
Aku pun mengangguk ''Aku tau, kamu udah bilang tadi'' lalu ku ambil orange juice dan meminumnya.
Astaga.. Apa yang akan dia lakukan? ia membuatku mati kaku, tatapannya tak pernah lolos dari ku. Seakan akan aku sudah terkunci rapat rapat dari pandangannya namun aku berusaha tenang dan berpura pura melihat sekeliling restoran ini.
Namun tiba tiba ada apa ini?? Oh tidak kedua jariku ada digenggamannya.
''Nabila aku sangat sayang sama kamu, aku sangat mencintaimu melebihi apapun'' jelasnya dia pun merogoh saku jas hitamnya dan mengeluarkan satu kotak kecil dibalut bahan beludru berwarna biru tua.
Dia melirik ku dan langsung membuka kotak tersebut ''Nabila jadilah istriku. Aku akan menyenangkanmu, membahagiakanmu menjadi seorang yang akan ku cintai seumur hidupmu''
Aku pun terdiam tanpa satu kata pun, tubuhku rasanya ingin meleleh, perutku merasa mulas bahkan rasanya sulit untuk bernafas.
Bagaimana bisa dia senekat itu.
''Gio aku mohon sudah berapa kali kita bahas ini, kita gabisa kayak gini'' Nada ku sedikit menekan.
Dia seperti tak menghiraukan apa yang aku ucapkan bahkan wajahnya masih saja memperlihatkan senyuman manis itu ''Aku ngga peduli aku sayang sama kamu dan aku tau kamu juga pasti punya perasaan yang sama aku'' sambil mengelus lembut pipiku.
Aku hanya menutup mata, mencoba lebih bersabar terhadap perlakuannya namun sayang sekali saat ini aku benar benar tidak bisa memaafkan perlakuannya. Aku bangkit dari tempat duduk ku, suasana yang romantis kini berubah menjadi dramatis. Suara piano itupun seketika terhenti. Aku mencoba menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
''Gio kamu udah kelewatan'' nada ku langsung mencuat tinggi, mata ku melotot menatapnya dalam dalam ''Kamu itu kakak kandung ku, mana mungkin kita bisa menikah'' dan kini air mata ku tak bisa tertahankan lagi.
''Tapi aku..'' katanya perlahan bangkit dari bangkunya.
''Cukup.. Apa kamu akan terus begini??'' air mataku terus mengalir deras dipipi ku, perasaan kesal ini sudah lama aku pendam namun dia tetap saja semakin jadi.
Pertengkaran kami masih saja berlanjut, kami sama sekali tak menghiraukan orang sekitar karena yang aku tau didalamnya hanya kami berdua. Tapi aku mendengar hentakan langkah kaki yang tiba tiba menghentikannya, sekitar 10 meter dari tempat kami. Aku tak pedulikan orang itu, mungkin itu pelayan yang ingin tau apa yang terjadi diantara kami.
''Orangtua kita itu sudah cerai saat kita masih kecil dan kita dipisahkan dikota yang berbeda, sudah berapa kali aku bilang ini sama kamu??'' nada ku sudah tak kuat, suara ku terengah engah membalap suara tangis ku ''Aku bahkan ngga mengerti kenapa ini bisa terjadi?? Bahkan menjalin hubungan selama 2 tahun lamanya saat dulu bersama kakakku sendiri'' nada ku perlahan lahan merendah.
''Tapi aku ngga bisa nerima itu'' tangkasnya dan menghempaskan tangannya
''Kamu harus nerima itu Gio, kamu itu kakak aku, kita sedarah, ini takdir''
Gio hanya diam, aku tau sekali perasaannya pasti kecewa--sama seperti ku saat mengetahui kalau kami bersaudara, sungguh sakit rasanya sehingga aku harus memutuskan hubungan kami untuk ke jenjang yang lebih serius.
Namun itulah hidup, aku ingin Gio bisa menerima ini. Aku lelah harus terus memberi penjelasan padanya. Hati nya sungguh keras untuk dilunakan.
Kupikir ini hanya ada di sebagian cerita pada sebuah novel atau sebuah naskah pada film film tapi hal itu sungguh membuatku tak bisa meyakinkannya. Sungguh aku sudah merasa gila.
''Nabila..'' suara dari kejauhan menyebut nama ku. Orang itu masih diam terpaku disana, aku yakin bahwa langkah kaki tadi bukan dari seorang pelayan karena aku tau bahwa suara itu adalah suara Eza.
Aku pun tak menoleh kebelakang untuk melihatnya, aku hanya berpandang lurus melihat sosok Gio yang mata nya berkaca kaca dan raut wajahnya yang terlihat bingung.
''Eza?? Kenapa dia disini??'' Tanya Gio sambil tangannya menunjuk kearahnya.
''Aku menyuruhnya datang''
Gio mengerenyitkan wajah nya ''Untuk apa??''
''Karena aku ingin menjelaskan padamu kalau dia sebenarnya bukan sahabat ku yang seperti aku katakan tapi dia adalah pacarku dari 1 tahun yang lalu. Maaf.'' Jelasku
Gio sontak kaget mendengar penjelasanku, tak henti hentinya terus menggelengkan kepalanya dengan kedua tangannya. Dia kembali mengerenyitkan wajahnya. Bibir mungil itu terlihat pucat, bola matanya sungguh tak tenang--menatap ku, juga menatap Eza secara bergantian. Dia sangat kesal, terlihat dia mengepalkan jari kanannya saat menatap wajah Eza namun aku mencoba memberanikan diri untuk mendekatinya, kakak ku yang tlah lama hilang.
Ku raih kedua tangannya dan seketika emosinya mereda.
Saat Gio menatap mata ku dari dekat, sebenernya aku tak sanggup. Namun aku berusaha tenang, aku ingin semua ini selesai, tak ada lagi kekasih karena yang ada hanya aku dan kakakku, Gio.
Ku ayunkan kedua tanganku dan mendarat di kedua pipinya
''Aku minta kamu untuk berhenti ngasih semua barang barang untuk aku. Mawar putih pun, tolong jangan kamu lakukan lagi. Aku tak ingin menyusahkanmu. Aku akan kemas barang barang ku dari apartemen itu untuk pindah ke kosan lamaku'' Kataku sambil tetap menatap matanya.
Aku bisa melihat matanya berkaca kaca, ingin menangis namun tertahankan dan justru akulah yang meneteskan air mataku di depannya. Sambil melingkarkan tangan ku di lehernya ku dekapkan tubuhku untuk memeluknya ''Maafin aku ka. Aku sayang kamu ka'' kata ku dengan suara pelan.
Dia pun langsung membalas pelukan ku dengan sangat erat lalu melepaskan pelukanku untuk kembali menatap wajahku dan menghapus air mataku ''Aku sayang kamu Nab, kamu harus tau itu''
aku hanya menoleh--membuang muka dari hadapannya dan mundur satu langkah dari hadapannya ''Aku harus pergi'' lalu membalikkan tubuhku dari nya dan mendatangi Eza. Aku tau Eza sangat khawatir dengan kondisi ku dan tidak ingin Eza menghajar Gio akibat perlakuannya. Tapi aku bersyukur memiliki Eza, ia sangat mengerti kondisi ku bahkan ia tak sungkan membantu masalahku dengan Gio.
Langkah ini sungguh berat, rasanya seperti selamanya aku akan meninggalkan Gio, tapi aku harus bisa untuk membuatnya menyadari bahwa ini adalah jalan yang terbaik untuk ku dan dengannya.
''Nabila..'' panggilnya membuat langkahku terhenti. Suaranya begitu lembut dan sangat ku kenali.
''Ambilah semua barang pemberianku untukmu termasuk apartemen itu. Aku ikhlas memberinya. Tapi yang harus kamu tau--'' suara itu perlahan sedikit tertekan. Mata ku terus menatap mata Eza ''Kamu harus tau kalau aku benar benar menyayangi mu''
Seketika aku seperti tertembak, nafasku sungguh sesak. Aku memejamkan mataku yang penuh akan air mata. Sungguh perkataan yang membuat ku sulit untuk menjawabnya. Aku sama sekali diam dan kembali melanjutkan langkah ku.
''Kamu gapapa sayang?'' Tanya Eza mengusap air mataku. Aku hanya menggeleng gelengkan kepala, ia hanya memberikan senyuman dan mendaratkan bibirnya di kening ku.
Ku lirik wajah Gio, ia masih diam menatap ku bersama Eza. Sepertinya kekesalan menyelimuti hatinya. Aku dan Eza pun melangkahkan kaki keluar restoran itu.
''Nabila..'' Gio kembali menyebut namaku, suaranya sangat bergetar. Suaranya membuat langkahku dan Eza terhenti. Eza menatapku, ia mengerutkan dahinya, wajahnya seakan akan menyuruhku untuk kembali mendatanginya, namun aku hanya menggelengkan kepala pelan. Eza menghembuskan nafasnya dan mempererat lengannya di pinggangku lalu keluar dari tempat itu meninggalkan Gio.
ENDING
Share on Google+

You Might Also Like

Comment Now

0 comments