cerpen : -Mimpi dan Kenyataan-

Posted
 -Mimpi dan Kenyataan-
oleh: Nurdian Riyanti

Hasil gambar untuk mimpi dan kenyataan galau anime

Special Valentine's Day
-o0o-
Di pertengahan Bulan Februari yang dingin. Rintik hujan mengguyur pertiwi dengan lembut. Menciptakan butiran embun yang mengkristal di pucuk dedaunan. Hampir satu jam aku duduk disini, di koridor kelasku, menunggu hujan reda. Jarum jam telah menumbuk angka 12 dan 3, tapi sepertinya hujan masih betah berkencan dengan pertiwi. Ku hela nafas panjang, kemudian ku benahi letak kacamata yang bertengger di batang hidungku. Sesaat kemudian kudengar suara petikan gitar melantun merobek keheningan. Menarik perhatianku. Di koridor yang berlawanan, terlihat beberapa pemuda tengah asyik melantunkan sebuah lagu di sela petikan gitar. Bukan, bukan dia yang bersuara merdu itu yang menjadi pusat perhatianku, bukan juga dia yang memetik gitar dengan indah. Tapi dia, yang tengah sibuk dengan ponselnya, meski ku tahu dia juga punya suara yang merdu. Sesekali dia tampak tersenyum menanggapi temannya-temannya. Ah, si pemuda populer itu. Sejenak ku palingkan wajahku. Menghela nafas lagi. Aku bukan orang yang mudah menamam perasaan pada orang lain, aku juga bukan orang yang mudah mengikat hubungan. Tapi ketika benih itu jatuh pada seseorang, akan sangat sulit bagiku untuk membuatnya berbunga maupun memangkasnya. Entahlah, mungkin memang benar jika seseorang menyebutku 'munafik yang menolak memiliki cinta'. Pasalnya, aku benar-benar tak mengerti bagaimana caranya menyukai seseorang, bagaimana kita harus bertingkah di depan orang yang kita sukai, atau bagai mana caranya agar kita bisa lebih dekat dengan orang yang kita sukai. Aku benar-benar tak mengerti. Pada akhirnya aku malah memalingkan wajah. Membuat seolah tidak ada rasa apapun di dalam rongga dada yang berdebar dahsyat. Memasang wajah cuek dan dingin. Meski sejujurnya aku berharap dia akan menyapaku. Ok, bisa kau sebut itu bodoh, egois atau semacamnya. Tapi kadang logikaku memang berjalan keluar dari jalurku. Kau yang mengenalku mungkin akan menyebutku sebagai gadis tomboy penggila anime yang keras kepala dan emosional. Kau mungkin juga akan memujiku sebagai teman dan pendengar yang baik. Tapi kau yang hanya melihat penampilanku atau belum mengenalku mungkin akan menyebutku gadis pendiam berkacamata yang agak aneh. Atau kau yang menilaiku dari tulisan-tulisanku mungkin akan menyebutku chuunibyou, atau pemimpi, atau orang alay, atau psikopat, atau orang yang terasing dari dunia atau, ah, Terserah, aku tidak masalah dengan sebutan-sebutan itu. Yang jadi masalah sekarang adalah... Aku jatuh cinta. Dan orang yang ku sukai itu adalah si populer yang ku yakin mempunyai banyak fans girl yang memujanya. Baik baik, itu sebabnya aku memalingkan wajah tiap bertemu dengannya. Aku tahu siapa aku dan siapa dia, termasuk perbedaan yang terbentang di antara kita. Dia yang membumbung tinggi di langit, dan aku yang melata di tanah. Menyapanya pun hanya akan jadi sebuah mimpi, apalagi berharap kalau dia akan membalas perasaanku. Huh, bahkan sampai surga terbelah dan neraka membeku pun, hal itu tidak akan terjadi. Ku hela nafas lagi, suara hujan yang bergesekan dengan udara terdengar semakin jelas. Hell, sampai kapan aku akan menunggu disini, sampai aku mengakar dan memiliki daun?, yang benar saja?. Ku dongakkan wajahku, menatap angkasa yang disapu gumpalan kelabu. Sesaat kemudian bumi menghembuskan nafas. Dingin seakan menusuk hingga ke tulang. ku dekap lenganku dan menggosoknya pelan. Huh.. Aku benar-benar ingin segera pulang. Berada di kamar, sambil menonton Anime di temani segelas susu hangat dan beberapa keping roti. Ah, kapan hujan akan berhenti?.
"Kristal"
suara itu menarik perhatianku, ku tolehkan wajahku, dan betapa terkejutnya aku, ketika melihat pemuda itu berdiri di dekatku sembari tersenyum hangat. Saking terkejutnya sampai aku berniat untuk masuk kelasku dan menguncinya rapat. Menghindar darinya. Dan lagi, bagaimana dia bisa tahu namaku?
"y-ya, kenapa?"
pada akhirnya pertanyaan itu lolos dari bibirku. Dan aku mengutuk nada bergetar itu
"tidak"
hey, apa maksut dari jawabannya itu?.
Sekarang apa yang harus ku lakukan?, menyuruhnya duduk, menanyakan kabar, membiarkannya mematung di tempatnya, atau berlari meninggalkannya?, ah, lagi-lagi aku bingung arus bersikap seperti apa. Pada akhirnya aku hanya diam, kemudian memalingkan wajah. Hey, apa dia akan membenciku jika aku terus-terusan melakukan ini?. Oh, ayolah, segera katakan sesuatu atau pergi saja, jantungku rasanya mau meledak sekarang.
"ini"
aku menoleh pelan kearahnya, dan mendapati dia tengah mengangsurkan sebatang coklat untukku. Jangan katakan...?
"selamat hari Valentine"
setelah aku meraih coklat itu dia berlalu dari pandanganku. Menyisakan suara hujan yang berdansa bersama degup jantungku yang menggila. Tadi itu dia...?
"hey, terimakasih ya"
aku bahkan tak sadar ketika kalimat itu meluncur dari bibirku dengan suara keras, dia hanya menoleh dan tersenyum. Apa ini Mimpi?, aku baru saja menggapai awan..
END
Share on Google+

You Might Also Like

Comment Now

0 comments