~BLOOD 28~
oleh: Nurdian Riyanti
warning: mengandung kekerasan, dan kata-kata kasar
0o0o0o0o0o0o0
sambungan telfon diputus oleh pihak Kennt. Untuk sesaat Alan terdiam. Kemudian mengacak-acak rambutnya
"huh.."
rasanya susah sekali membenci gadis itu. Jangankan membenci, mengacuhkan saja ia tak bisa
_
"huh.."
rasanya susah sekali membenci gadis itu. Jangankan membenci, mengacuhkan saja ia tak bisa
_
baru saja Kennt akan meletakkan ponselnya. Seseorang menelfonnya lagi. Orang kantor..
"tsk"
"tsk"
"halo"
"apa?"
"sekarang?, aku tidak bisa"
"kalau begitu batalkan saja"
"ya sudah akan ku usahakan"
"tsk, iya-iya"
"aa"
Tanpa memutus sambungan, Kennt melempar ponselnya keatas sofa. Kemudian mengacak rambutnya frustasi. Baru saja sehari ibunya tidak ada di rumah, urusan perusahaan jadi kacau. Bagaimana nanti jika ibunya benar-benar sudah tidak ada, bisa-bisa perusahaan hangus terbakar. Kennt tahu, suatu saat hal ini akan terjadi, dia juga sudah mempersiapkan banyak hal untuk ini, karena dia tahu, suatu saat ia akan memegang perusahaan. Tapi tidak secepat ini, ia hanya belum menata perasaannya untuk ini.
"permisi"
Kennt mengangkat wajahnya dengan cepat, dan mendapati seorang gadis berdiri diambang pintu
"Mely?"
gadis yang dipanggil Mely itu tersenyum, kemudian berjalan masuk, menaruh sesuatu di atas meja. Ah, Kennt sempat lupa jika rumah temannya itu berada di daerah ini.
"aku baru tahu kau pindah kesini, jadi ku putuskan untuk berkunjung"
Kennt menatap gadis itu sejenak. Banyak yg bilang gadis itu menyukainya
"terimakasih"
Mely melebarkan senyumnya
"tidak perlu berterimakasih, aku senang jika bisa membantumu"
"oh, terimakasih"
"sudah ku bilang jangan berterimakasih, ini bukan apa-apa"
Kennt menghela napas, kemudian memaksakan senyumnya
"maaf, kalau begitu, tolong bantu aku, tolong jaga adikku selama aku pergi. Dia sedang sakit"
lagi-lagi gadis itu tersenyum
"tentu"
"dia di kamar atas"
kemudian pemuda itu beranjak, mengambil kunci mobil di atas meja
"Kennt kenapa lenganmu?"
"hanya luka kecil"
_
Kennt mengangkat wajahnya dengan cepat, dan mendapati seorang gadis berdiri diambang pintu
"Mely?"
gadis yang dipanggil Mely itu tersenyum, kemudian berjalan masuk, menaruh sesuatu di atas meja. Ah, Kennt sempat lupa jika rumah temannya itu berada di daerah ini.
"aku baru tahu kau pindah kesini, jadi ku putuskan untuk berkunjung"
Kennt menatap gadis itu sejenak. Banyak yg bilang gadis itu menyukainya
"terimakasih"
Mely melebarkan senyumnya
"tidak perlu berterimakasih, aku senang jika bisa membantumu"
"oh, terimakasih"
"sudah ku bilang jangan berterimakasih, ini bukan apa-apa"
Kennt menghela napas, kemudian memaksakan senyumnya
"maaf, kalau begitu, tolong bantu aku, tolong jaga adikku selama aku pergi. Dia sedang sakit"
lagi-lagi gadis itu tersenyum
"tentu"
"dia di kamar atas"
kemudian pemuda itu beranjak, mengambil kunci mobil di atas meja
"Kennt kenapa lenganmu?"
"hanya luka kecil"
_
"Zee"
Zee menolehkan kepalanya. Vita yang ada di dekatnya juga ikut menoleh. Kemudian mereka mendapati Alan yang tengah berlari kearah mereka
"Alan?"
pemuda itu berhenti tepat di depan mereka. Kemudian mengatur napas sejenak.
"aku baru saja dapat kabar dari Kennt-"
Vita menautkan alisnya 'Kennt?'
"-katanya mereka pindah rumah. Mungkin terjadi sesuatu"
Zee terperanjat, terkejut
"terjadi sesuatu?"
"ya. Pulang sekolah aku kesana, sebaiknya kau ikut"
"ya"
Vita masih menautkan alisnya 'apa hubungan Ara dengan Kennt?'
"siapa Kennt?"
Akhirnya gadis itu memutuskan untuk bertanya. Zee mengalihkan pandangannya menuju Vita
"kakaknya Ara"
Vita terperanjat, namun berhasil menghapus ekspresi terkejutnya dengan cepat
"maksutmu Kennt Keny?"
"bukan, tapi Kennt Alexsander. Dia mengubah namanya kurang lebih sembilan tahun lalu. Saat ayah dan ibunya bercerai"
kali ini Alan yang menjawab pertanyaan Vita. Lagi-lagi gadis itu terperanjat, tampak ia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa terkejutnya. Dan itu membuat Alan maupun Zee menautkan alisnya
"kenapa?"
pertanyaan itu lolos dari bibir Zee. Belum sempat Vita menjawab, Alan menyahut dengan cepat
"jangan-jangan kau..?"
kali ini Alan yang dibuat terkejut. Tiba-tiba saja ia teringat dengan gadis bermata bulan yang sering diceritakan Kennt sembilan tahun lalu. Sementara Zee masih menautkan alisnya. Tak mengerti
"aku akan ikut ke rumah Ara"
_
Zee menolehkan kepalanya. Vita yang ada di dekatnya juga ikut menoleh. Kemudian mereka mendapati Alan yang tengah berlari kearah mereka
"Alan?"
pemuda itu berhenti tepat di depan mereka. Kemudian mengatur napas sejenak.
"aku baru saja dapat kabar dari Kennt-"
Vita menautkan alisnya 'Kennt?'
"-katanya mereka pindah rumah. Mungkin terjadi sesuatu"
Zee terperanjat, terkejut
"terjadi sesuatu?"
"ya. Pulang sekolah aku kesana, sebaiknya kau ikut"
"ya"
Vita masih menautkan alisnya 'apa hubungan Ara dengan Kennt?'
"siapa Kennt?"
Akhirnya gadis itu memutuskan untuk bertanya. Zee mengalihkan pandangannya menuju Vita
"kakaknya Ara"
Vita terperanjat, namun berhasil menghapus ekspresi terkejutnya dengan cepat
"maksutmu Kennt Keny?"
"bukan, tapi Kennt Alexsander. Dia mengubah namanya kurang lebih sembilan tahun lalu. Saat ayah dan ibunya bercerai"
kali ini Alan yang menjawab pertanyaan Vita. Lagi-lagi gadis itu terperanjat, tampak ia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa terkejutnya. Dan itu membuat Alan maupun Zee menautkan alisnya
"kenapa?"
pertanyaan itu lolos dari bibir Zee. Belum sempat Vita menjawab, Alan menyahut dengan cepat
"jangan-jangan kau..?"
kali ini Alan yang dibuat terkejut. Tiba-tiba saja ia teringat dengan gadis bermata bulan yang sering diceritakan Kennt sembilan tahun lalu. Sementara Zee masih menautkan alisnya. Tak mengerti
"aku akan ikut ke rumah Ara"
_
Kennt memacu mobilnya dengan cepat.
Sekretaris sialan, bagaimana bisa dia menyuruhnya kembali untuk mengambil berkas-berkas penting yang katanya dibawa oleh ibunya. Hey, bukankah dia itu sekretaris ibunya?, bukankah seharusnya dia yang mengurusi hal-hal semacam itu. Dan lagi, Kennt itu pewaris utama Alexsander's corp, bagaimana bisa seorang sekretaris menyuruhnya datang dan pergi seenak jidatnya?.
Perlahan mobil sport hitam itu berhenti didepan sebuah rumah minimalis bercat orange putih. Seorang pemuda berrambut pirang dengan mata coklat madu yang teduh dan manis turun dari mobil itu, tubuhnya terbalut dengan kemeja putih yang dirangkap dengan jas hitam. Pancaran kekesalan dari wajahnya tak dapat menutupi pesonanya. Pemuda itu melangkah dengan cepat menuju rumah itu, kemudian membuka pintunya dengan tergesa. Setelah pintu itu terbuka mata coklat madunya membulat sempurna. Apa yang dilakukan Mely dengan rumahnya?
"Mel?"
Kennt menerobos masuk, menuju lantai atas.
"Mely?, Ara?"
pemuda itu mendorong pintu kamar Ara dengan cepat, yang ia dapati adalah Mely yang terikat dengan sebuah tambang di kursi kayu
"Mely?"
dengan cepat pemuda itu melepas tali yang mengikat Mely.
"dimana Ara?"
gadis itu menunduk. Menangis.
"ma-af"
"siapa yang melakukan ini?"
"ma-maaf"
"mereka membawa Ara?"
"maaf"
"brengsek!"
gadis itu tersentak, keadaannya yang buruk jadi tambah buruk setelah mendengar bentakkan Kennt. Kennt menyadari hal itu, kemudian rasa bersalah menghinggapinya.
"Mel?"
Kennt menerobos masuk, menuju lantai atas.
"Mely?, Ara?"
pemuda itu mendorong pintu kamar Ara dengan cepat, yang ia dapati adalah Mely yang terikat dengan sebuah tambang di kursi kayu
"Mely?"
dengan cepat pemuda itu melepas tali yang mengikat Mely.
"dimana Ara?"
gadis itu menunduk. Menangis.
"ma-af"
"siapa yang melakukan ini?"
"ma-maaf"
"mereka membawa Ara?"
"maaf"
"brengsek!"
gadis itu tersentak, keadaannya yang buruk jadi tambah buruk setelah mendengar bentakkan Kennt. Kennt menyadari hal itu, kemudian rasa bersalah menghinggapinya.
Dia terlalu khawatir pada Ara.
"maaf, kau baik-baik sajakan?"
lupakan perusahaan
yang harus dia lakukan sekarang ini adalah menenangkan Mely.
TBC
Comment Now
0 comments