cerpen : Dukun

Posted
Dukun
Cerpen Karangan: Dan Iswanda

Hasil gambar untuk dukun

Aku mematung seperti kena tenung. Ku lihat perlahan jari tengahnya merapikan poni rambutmu, terus memutar ramah di lengkungan telinga kirimu sampai akhirnya keempat jari yang lain turut ambil bagian menjamah kehangatan pipimu. Perlahan bibir kalian beradu dengan malu-malu, sebelum saling memagut dengan buasnya. Hatiku mengaduh, menjerit sejadi-jadinya. Berbagai macam rasa bercampur aduk dengan liar. Marah, cinta, sedih. Lalu dari hubungan threes*me 3 rasa terlarang itu lahirlah cemburu, yang pelan tapi pasti mulai membakar. Asap pekat segera mengepul dari kepalaku hingga mencapai titik didih. Dua ratus dua belas Fahrenheit, tiga ratus tujuh puluh tiga Kelvin, seratus derajat celcius.
Seperti orang yang kena tenung, hanya ada satu orang yang bisa mengobati. Ku cari sang dukun di kelas sebelah, tapi jidat mengilapnya tak tampak. Kata teman sebangkunya dia tidak masuk dua hari. Izin Sakit. Mendengar ini kalian pasti heran kenapa dukun bisa sakit. Pasti dia dukun palsu yang mengaku-ngaku sakti. Tapi jangan berprasangka buruk dulu wahai pembaca yang budiman. Dukun yang satu ini bukan dukun yang biasa mengobati orang sakit. Bukan juga dukun yang biasa dicari ibu hamil yang mau beranak ketika air ketuban mereka pecah mendadak. Dan tentu saja bukan dukun yang berkawan dengan tuyul, jin, dan makhluk najis lainnya. Yang ku cari adalah temanku Kucai, dukun cinta yang kesohor di jagat percintaan SMA negeri kami.
Aku tunggu sampai keesokkan harinya, rasa cemburuku belum juga padam. Malah semakin menjadi-jadi melihat sang pujaan hati bergandengan tangan dengan Juned si manusia laknat dari kelas 3 IPS 1. Di kantin ku lihat mereka. Waktu istirahat di kelas juga jumpa mereka. Di gerbang sekolah ada mereka. Di UKS, kantor tata usaha, ruang olah raga, lapangan basket, ruang kepala sekolah, di WC.. Ah, pokoknya di mana-mana. Seolah-olah mereka memamerkan kemesraannya dengan mencetak ribuan poster gambar mereka dan disebar di seluruh sekolah. Atau mungkin mereka hanya mencetak satu gambar tapi ditempelkan di jidatku ini. Intinya aku cemburu berat.
Hari itu, begitu bel sekolah berbunyi tanda pulang sekolah berbunyi, aku segera melesat ke rumah Kucai yang tidak jauh dari sekolah. Dengan sabar aku pencet bel rumahnya. Satu kali, belum ada jawaban. Dua kali, tak ada tanda kehidupan. Tiga kali, sunyi. Ingin rasanya aku lompat pagar dan mendobrak masuk ke dalam. Tapi nyaliku ciut melihat tulisan, “Awas Anjing Galak!” tergantung mengancam di gerbang rumah.
Seandainya semua penjahat bernyali sepertiku, maka Jakarta akan dianugerahi kota bebas maling sedunia dan penjualan plang ‘awas anjing galak’ akan meroket, membantu perekonomian warga tidak mampu dan berpenghasilan menengah ke bawah. Populasi anjing akan meloncat tinggi melebihi banyaknya motor bebek di jalanan, tapi sayangnya kutu anjing juga akan menjadi pandemik mengingat banyaknya habitat baru yang bermunculan. Untung saja sebelum lamunan liarku membayangkan Jakarta kiamat diserang kutu anjing mutan hasil reaksi kimia dari sampah Ciliwung, sebuah sosok hitam semampai melangkah ke luar dari pintu dan berkata, “Oii!”
Namanya adalah Benjamin Franklin Soeganda. Luar biasa sekali nama itu. Hasil pemberian bapaknya yang seorang pengusaha sukses. Kabarnya sang bapak dari dulu gemar menabung dalam mata uang dollar sehingga waktu kerusuhan Mei ’98 pecah, pecah pulalah bisul-bisul kemiskinan yang menjangkiti keluarga Soeganda. Nilai rekening Soeganda senior terbang tinggi seiring nilai dollar yang melejit. Dari situlah kekaisaran bisnisnya lahir. Karena itu begitu anaknya lahir, nama yang diberikan adalah nama pria kapitalis gendut berjidat lapang yang terpampang di lembaran 100 dollar Amerika. Cerita yang luar biasa bukan? Tapi sejak masuk SD, Soeganda junior sudah dipanggil Kucai oleh teman-temannya. Nama yang pantas melihat wujudnya yang kurus, berkulit cokelat gelap, dan berambut ikal berminyak.
“Sakit apaan lo Cai?” kataku basa-basi.
“a..a..ii..i..ii..ih.” balas Kucai sambil menunjuk-nunjuk gigi geraham dan pipinyanya yang bengkak.
“Jah sakit gigi lo? Makanya Cai, sikat gigi jangan pake sikat WC. Tambah porak-poranda muka lo..” Candaku.
“i..a..an….uu.” katanya mencoba memaki. Kasihan Kucai. Sakit gigi sudah merampas semua konsonan dari mulutnya. Memaki saja dia tak becus.
Segera saja ku jelaskan maksud kedatanganku, maksud perjalanan suci yang ku tempuh dari sekolah sampai rumahnya itu. Ku beberkan pemandangan tidak sedap yang ku lihat di sekolah kemarin padanya. Bagaimana pujaan hatiku, Nina, bermadu kasih dengan Juned, si laknat dari 3 IPS 1. Bagaimana cemburu membuat hatiku mau meledak. Lalu ku gambarkan pula keadaan hari itu, saat ku lihat mereka dengan asyiknya mengumbar kemesraan dengan bergandengan tangan seharian. Sementara aku hanya bisa melihat dari kejauhan sambil menggumamkan semua mantera kutukan yang bisa ku ingat saat itu. Ku jelaskan pula bagaimana aku mendoakan segala macam doa dari 5 agama yang ada di negeri ini sampai semalaman. Semuanya supaya rasa cintaku pada Nina bisa terhapus dan sadisnya penyiksaan batinku ini bisa berhenti.
Sang dukun hanya manggut-manggut sebentar. Lalu dia mengambil whiteboard kecil yang sudah lusuh dan menuliskan wejangannya yang luar biasa bijak. “Anak muda, Tuhan mana yang mau mendengarkan doa orang yang minta dijauhkan dari cinta?” Aku tersentak. Walaupun si Dukun sakti mandraguna ini sedang tidak bisa bicara, tapi kata-katanya itu keras menabuh gendang telingaku, dan semua gendang-gendang lain yang ada padaku. Luar biasa sekali dokter cinta ini. Level kebijaksanaannya sudah setara Raja Salomon. Sampai-sampai aku hanya termangu malu menatap tulisan cakar ayam di whiteboard itu.
“Terus gue mesti gimana lagi Cai? Gue sampe nggak bisa tidur semaleman kalau mikirinin ini. Mana ujian udah deket lagi. Bisa banyak kembang apinya rapot gue. Tambah amsyong gue kalau sampe gak lulus cuma gara-gara cinta.” Kucai hanya diam saja memandang nasib temannya yang mengenaskan ini. Sejenak kemudian diambilnya si spidol keramat dan ditulisnyalah sebuah wejangan pamungkas. “Coba lo bilang semua perasaan lo ini ke Nina.”
“Hah. Muke gile lo. Apa kata anak-anak? Gak etis kayaknya nembak cewek yang uda ada cowoknya.” balasku sewot tak percaya atas nasihat menyimpang si dokter. Tapi bukan Kucai namanya kalau tidak bisa meyakinkan pasiennya. Secepat kilat dia menggoreskan kata-kata bijaknya lagi di papan usang itu. “Sebelum janur juning melengkung, siapa saja masih bisa mencetak gol.”
Absurd sekali. Tapi aku teringat bahwa orang-orang genius memang punya keanehan dalam berpikir dan bertutur kata yang absurd. Sudah banyak contohnya. Einstein, Hawking, Lennon, dan sekarang mahluk hitam legam yang duduk bersila di depanku, sang jenius cinta dari SMA delapan, Benjamin Franklin Soeganda. Ku mantapkan hatiku untuk mengikuti saran sang dukun ini dan aku segera pamit pulang. Tak lupa dia menyelipkan sebuah pesan singkat sebagai bekal untuk menguatkan motivasiku. “Cinta bermasalah atau enggak, gak bakal ngaruh ke rapot lo. Dari dulu emang udah kayak malem tahun baru tuh rapot..” Sialan.
Malam itu kembali aku tak bisa tidur, membayangkan wajah kamu besok, dan semua ketidak-pastian ekspresimu ketika ku sampaikan surat cinta ini. Surat cinta dari relung hati pujangga yang terluka ini. Pujangga yang memujamu setengah mati. Nina. Ku bayangkan sosokmu yang putih dan lembut berbaring di sampingku malam itu. Kita saling bertatap-tatapan sampai kamu terlelap. Dan aku akan tersesat di keindahan matamu yang membiusku, dingin seperti hutan Ardennes di desember sekaligus hangat layaknya pulau Canary di Juni. Ingin rasanya aku menghabiskan waktuku di dalamnya. Menyusuri hutan-hutan cemaranya. Bermain air di deburan ombak-ombak kecilnya yang genit menggoda. Di tempat itu, waktu adalah abadi. Dan dengan senang hati akan ku jalani keabadian ini bersamamu, hanya denganmu, berdua.
Jam istirahat keesokkan harinya, aku menyelinap ke dalam kelas seperti ninja kasmaran. Surat pamungkas yang bisa menaklukan hati perawan dan janda kembang mana pun -yang ku tulis dengan bahasa indah nan cantik berbunga-bunga itu- sudah ku selipkan di dalam buku akuntansi dasar di meja Nina. Kahlil Gibran pun akan menitikkan air mata jika membacanya. Aku sangat yakin Nina akan luluh. Nasihat-nasihat Kucai si dukun cinta bergaung di dalam benakku, semakin menguatkan kepercayaan diriku. Nina akan jatuh ke pelukanku.
Bel tanda istirahat sudah selesai berbunyi nyaring, senyaring harapanku akan cinta Nina yang segera berpaling. Aku duduk di mejaku, sekitar 4 baris di arah jam 5 di belakang Nina. Ku lihat dia membuka buku Akuntansi dasarnya dan menyadari ada sepucuk surat di sana. Jantungku berdebar kencang. Muatan perutku jumpalitan tak keruan. Nina mulai membaca surat itu. Dari kursiku ku lihat senyum merekah di ujung bibirnya. Hatiku melengos lega penuh kemenangan. Tapi secara perlahan namun pasti, senyum Nina berubah menjadi tawa tertahan. Aku heran dibuatnya. “Apa gerangan yang lucu di suratku?”
Tawanya semakin tak tertahan. Dia seperti sedang membaca novel Raditya Dika. Dengan kekuatan tawa yang ditahannya, aku berani bertaruh dia akan segera pipis di celana. Aku semakin bingung dibuatnya. Lalu hal yang mengerikan itu terjadi. Setelah selesai membaca suratku, sambil tetap menahan tawa, dia menyerahkan suratku itu ke teman sebangkunya. Dua menit kemudian teman sebangkunya itu menahan tawa yang sama dengannya. Lalu teman sebangkunya itu menyerahkan lagi surat cintaku itu ke meja sebelahnya.
Seperti domino effect, hal yang sama berlaku pada meja sebelah Nina. Penghuninya menahan tawa seperti sedang nonton lawak di perpustakaan, tertawa boleh tapi tidak boleh sampai ada suara. Empat orang yang menahan tawa itu seperti koor gereja sumbang yang menyanyikan lagu canon yang berkejar-kejaran dan bersahut-sahutan. Nada-nada fals itu menusuk-nusuk kepercayaan diri dan harga diriku hingga karam tak bersisa. Saat itu aku sadar cinta pertamaku kandas di kelas tiga.
Siangnya, si dukun sakit gigi mencoba menghiburku dengan nasihat wasiatnya. “Jatuh cinta itu memang harus sakit bro. Namanya juga JATUH.. cinta. Ya jatuh memang harus sakit..” Bijak sekali kata-kata manis yang ke luar dari mulut bertuah sang dukun ini. Tapi entah mengapa ingin ku tempeleng kepalanya dan semua giginya ku cabuti pakai tang karatan.
Cerpen Karangan: Dan Iswanda
Share on Google+

You Might Also Like

Comment Now

0 comments