cerpen : CINTA DI DUA MUSIM INDONESIA (9)

Posted
CINTA DI DUA MUSIM INDONESIA (9)

Hasil gambar untuk pohon dua musim
Reno,Rendy,Gilang, dan Veron sudah sampai di restoran yang dimaksud bu Diora. Tetapi Bu Diora belum datang juga.
" Sebenarnya.. Orang ini kemana? Tadi katanya di suruh datang pukul sembilan sekarang bahkan sudah pukul sebelas, tapi dia belum datang? " Gumam Rendy
" Coba kau hubungi bu Diora lang." pinta Veron kepada Gilang. Gilang yang sedang sibuk mengotak - atik handphone nya pun menghentikan aktivitasnya dan memenuhi permintaan Veron. Reno mendesah pelan sambil berkata,
" Benar yang kau katakan membosankan sekali " ucap Reno sambil menyandarkan tubuhnya.
" Aku sudah menghabiskan minumanku sejak satu jam yang lalu. Sekarang aku jadi haus lagi " keluh Rendy.
" sudah kalian diam! Kalian itu para pria, jangan seenaknya saja kalau mengeluh." tegas Gilang. Veron hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat tingkah laku para sahabatnya
" Hallo. Bu Diora? " ucap Gilang di telfon
" Ini bu.. Kami sudah ada di tempat yang ibu katakan kemarin."
"....."
" Iya bu.. Sekarang ibu ada di mana? "
"...."
" apa? Oh ya. Baiklah bu akan saya sampaikan."
"...."
" iya bu.. Tidak apa - apa"
"....."
" baik bu. Selamat siang". Pembicaraan di telvon pun selesai.
" apa katanya? " Tanya Veron
" Bu Diora tidak bisa datang hari ini. "
" APA?? " tanya Reno dan Rendy tak percaya. Sedangkan Veron hanya menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya kekursi. Beberapa orang menengok kearah Mereka karena pekikan Reno dan Rendy tadi.
" sudah ku duga " tambah Veron.
" Putri dari bu Diora sedang sakit jadi dia tidak bisa datang. Karena dia harus merawat putrinya." jelas Gilang.
" kalau ku tahu begini akhirnya. Lebih baik aku menghabiskan waktu liburku dengan tidur di rumah." keluh Reno.
" hm.. Seharusnya kita merasa beruntung." sahut Gilang.
" Beruntung bagaimana? " tanya Veron
" kita punya waktu untuk berkumpul "
" yah.. Benar juga apa yang dikatakan Gilang " sahut Reno bersemangat
" karena kita sudah berkumpul. Kita akan menyelesaikan permasalahan di antara kita." ucap Rendy.
" permasalahan apa?" tanya Gilang tak mengerti.
" tu.. " Tangan Rendy menunjuk ke arah Veron. Kontras secara bersamaan ketiga temanya pun menoleh ke arahnya.
" aku? Kenapa aku? Apa di dunia ini hanya aku yang mempunyai masalah? Kenapa aku yang selalu jadi topiknya." keluh Veron
" kami hanya ingin mengetahui apa yang terjadi denganmu di rumah orang tuamu." jelas Rendy
" aku tak mau membahas itu" sahut Veron.
" oh.. Ayolah Veron jangan bertingkah seperti itu." jawab Gilang.
" kau harus bisa melewatinya. Kau tak boleh terbelenggu oleh hal itu." tambah Reno. Mau tak mau akhirnya Veron menceritakan kisahnya pada mereka bertiga.
3 HARI YANG LALU....
" Veron. Kau harus memahami. Kami melakukan hal ini untuk kebaikanmu " ucap ayah veron
" kebaikan yang mana yah? Apa baiknya bagiku atas kejadian ini? Apa yah? Apa? " sahut veron
" Nak.. Kami melakukan ini memang untuk kebaikanmu. Suatu saat kau pasti akan mengerti nak." jawab ibu Veron.
" suatu saat itu kapan bu? Kapan? Sejak dulu kalian slalu saja mengatakan hal itu, tapi sampai sekarang kalian tak pernah sedikitpun memberitahukan seluk beluk keluarga kita.
Kalian mengagggap aku sebagai apa? orang asing kah? iya? Apa benar begitu?."
" VERON!!!" gertak ayah Veron. Dan plaakk!!.. Sebuah tamparan melayang pada pipi kanan Veron. Di sudut bibir kanan veron keluarlah darah segar yang mengaliri sebelah kanan dagunya. Ibu Veron hanya mampu memandang kejadian itu dengan hati yang ketar - ketir.
" sudah ku duga aku ini hanya orang asing." ucap Veron sambil menyeringai pada ayahnya. Ayah Veron menatap Veron. Ia lepas kendali. Ayah Veron kemudian memukul pipi kanannya lagi. Kali ini lebih keras sampai - sampai Veron terpelanting ke lantai. Setelah pipi kanan kini sebuah tendangan mendarat di perutnya. Veron hanya mampu meringis menahan rasa sakit yang menjalari tubuhnya.
" sudah, sudah, sudah cukup, sudah, ku mohon hentikan." pinta ibu Veron sambil menangis mendekap kaki suaminya. Melihat hal itu ayah Veron pun tersadar dan membantu ibu Veron berdiri. Sedangkan Veron ia berusa berdiri dengan susah payah. Ayah Veron sudah tersadar dari khilafnya dan berkata,
" Veron. Ayah..."
" cukup" potong Veron cepat. " Itu sudah cukup membuktikan bahwa aku memang bukan anggota keluarga ini. Terima kasih atas luka yang telah anda berikan. Permisi" Veron langsung pergi dari rumah itu dengan membawa sejuta perih yang akan menimbulkan luka dalam dan akan butih waktu lama untuk menyembuhkannya. Veron meninggalkan rumah itu dengan tanpa menengok ke belakang lagi, meskipun ia mendengar tangisan ibunya. Yang sanggup mengiris hatinya. Dalam tangisan itu Ibu veron meminta Veron untuk jangan pergi. Sedangkan ayah Veron terduduk di sofa sambil memegang kepalanya. Meratapi kekhilafannya....
Next/stop. Makasih atas waktunya......
Share on Google+

You Might Also Like

Comment Now

0 comments