Burung Dalam Karung
Cerpen Karangan: Umar Farooq Zafrullah
Di luar ATM sudah banyak orang yang mengantre. Aku buru-buru ke luar sambil kerepotan membawa segepok uang dalam amplop cokelat. Uang yang barusan ku ambil dari mesin ATM itu adalah uang transfer cicilan kredit kulkas dari Nyonya Soraya. Besok uang itu sudah harus disetor ke perusahaan. Lima ratus ribu rupiah dengan apik masuk ke dalam ranselku. “Permisi, Pak.” Tak sengaja aku menyenggol seorang pria saat tergesa-gesa ke luar dari gerai ATM.
Pria itu menampakkan muka masamnya. Maklum, sudah cukup lama ia menungguku ke luar dari ATM dan membiarkan keringat membasuhi kumisnya yang tebal itu. Aku melambaikan telunjuk ke tengah jalan. Sebuah Metro Mini berhenti sepuluh meter melewati tempatku berdiri. Aku berlari mengejar Metro Mini yang kosong itu. “Tanah Abang! Tanah Abang!” Sang kondektur berteriak kepadaku, sekalian menyeru mereka yang berlalu lalang di sekitar halte. Sekeping koin diketuk-ketukkan ke kaca, memberi sinyal supaya bus berhenti.
Kabut hitam pekat yang menyeruak dari knalpot seakan memberi sapaan selamat datang untukku. Aku duduk di bangku belakang. Berada di sana seperti roti yang dibakar dalam mesin panggangan. Tubuhku mendidih, air ke luar lewat pori-pori kulit. Satu bungkus tisu sudah habis untuk menyeka keringat dan itu pun kurang. “Bang, tisunya satu, dong. Sama minumannya satu, ya.” Aku menghentikan langkah pedagang asongan yang lesu lantaran melihat keadaan bus yang sepi tanpa penumpang, hanya aku. Dan tampaknya ia tak berharap banyak dariku.
Tapi begitu aku membeli sesuatu darinya, ia sumringah. “Oh, ini, Mas, ini. Nih. Tisunya, ini minumannya. Semua jadi dua ribu rupiah.” Lelaki bertubuh bungkuk itu menyodorkan sebungkus tisu dan minuman dingin yang bikin tenggorokan merengek-rengek. Tersadar karena dompet di sakuku tak menyimpan uang recehan, akhirnya aku mengais-ngais ransel hingga ke pelosok-pelosoknya untuk mencari uang receh yang barangkali terselip. “Ah, ini Bang. Makasih ya.”
Aku menancapkan sedotan ke gelas minuman itu. Dengan segenap nafsu aku menyedot habis isi dari gelas plastik itu. Panas yang bergejolak dalam tubuhku sedikit teredam. Aku bisa dengan tenang melihat-lihat jalan raya yang menyajikan pemandangan monoton, kalau tidak kemacetan, ya huru-hara pemuda yang tawuran, kalau tidak itu ya kecelakaan. Itu hal yang lumrah di Jakarta. Merasa sendiri dan tak ada yang mengusik, aku pun menyingkirkan ranselku yang masih menganga usai berburu uang recehan tadi ke bangku kosong di sebelahku. Akhirnya aku bisa menguasai bangku sendiri tanpa beban yang menempel di tubuh.
“Tanah Abang, Mas! Tanah Abang!” Si kondektur berseru lagi, ada calon penumpang yang hendak naik. Bus berguncang pelan, ada orang yang naik rupanya. Seorang pemuda sebaya denganku duduk manis di bangku seberang. Kemudian disusul seorang wanita yang menggendong bayinya, ia tampak susah payah membawa barang bawaannya tanpa dampingan seorang lelaki. Ia mengambil tempat di depan pemuda yang tadi datang di awal. Merasa penumpang sudah cukup, bus pun berjalan.
Tapi kira-kira dua puluh meter bergerak, bus berhenti. Sang kondektur kembali mengetuk-ngetuk koin ke kaca. Tiga orang pria naik sekaligus. Satu di antara mereka membawa karung goni. Ia duduk di bangku paling belakang, yang satu lagi duduk di sebelahnya sambil membaca koran, sisanya duduk di bangku paling depan. Bus pun kembali melaju. Angin sepoi-sepoi membawa kenikmatan tersendiri bagiku. Lalu lintas keramaian dan gedung-gedung pencakar langit yang ku pandang lewat jendela jadi penawar kesal yang menjemu sedari tadi.
Duduk di dekat jendela seakan menjadi dambaan setiap orang yang menjadi penumpang bus kota. Sayangnya kenikmatan itu agak terusik dengan pembicaraan orang-orang di sekitarku. Sehingga aku harus mengalihkan pandangan untuk menyaksikan obrolan yang tidak penting itu. Awalnya ku dengar kicauan burung yang begitu merdu. Merdu sekali. Terdengarnya seperti burung beo, si burung dengan sejuta talenta. Suaranya dapat menduplikasikan suara apa pun yang akrab dengannya.
“Itu burung, Pak?” tanya pria yang duduk di bangku paling depan. Perhatiannya tercuri oleh suara itu. Ia menolehkan kepalanya ke belakang. “Oh, ini? Iya, Pak. Burung beo.” Jawabnya setengah teriak, lantaran beradu dengan deru mesin bus, ditambah jarak yang lumayan jauh. “Pantas. Dari tadi berisik.”
“Duh, maaf, ya. Gara-gara burung piaraan saya semua jadi keganggu. Maaf, ya.” Ia meminta maaf pada semua yang duduk di dalam bus, termasuk aku. “Itu burung beli di mana, Pak? Pasti mahal, ya?” Tiba-tiba pemuda yang sebaya denganku itu menimpali, seolah-olah ia sudah akrab dengan si bapak pembawa burung.
“Duh, maaf, ya. Gara-gara burung piaraan saya semua jadi keganggu. Maaf, ya.” Ia meminta maaf pada semua yang duduk di dalam bus, termasuk aku. “Itu burung beli di mana, Pak? Pasti mahal, ya?” Tiba-tiba pemuda yang sebaya denganku itu menimpali, seolah-olah ia sudah akrab dengan si bapak pembawa burung.
“Saya beli di Pasar Burung, deket Cipinang sana. Mahal, Mas.”
“Berapa, Pak?” Lanjutnya. “Waduh, pokoknya saya beli ini sampai bela-belain jual TV, saking mahalnya. Nggak tahu deh berapa harganya. Saya nggak ngerti masalah burung, Mas. Anak saya paling jago urusan ini.”
“Terus mau dibawa ke mana tuh burung?” Sahut pria paling depan. Sambil bertingkah sibuk mendiamkan burung yang semakin rewel itu si bapak tadi menjawab, “Mau saya bawa ke Tanah Abang buat disimpan di rumah anak saya dulu biar diurus. Anak saya paham betul mengurus burung.”
“Berapa, Pak?” Lanjutnya. “Waduh, pokoknya saya beli ini sampai bela-belain jual TV, saking mahalnya. Nggak tahu deh berapa harganya. Saya nggak ngerti masalah burung, Mas. Anak saya paling jago urusan ini.”
“Terus mau dibawa ke mana tuh burung?” Sahut pria paling depan. Sambil bertingkah sibuk mendiamkan burung yang semakin rewel itu si bapak tadi menjawab, “Mau saya bawa ke Tanah Abang buat disimpan di rumah anak saya dulu biar diurus. Anak saya paham betul mengurus burung.”
Tiba-tiba pemuda di dekatku itu menghampiri bapak pembawa burung dengan terhuyung-huyung karena bus sedang melaju. Ia membuka mulut karung berisi burung itu, wajahnya terperangah. Aku turut penasaran. Sehingga orang-orang sekitar ikut nengok memandang karung goni itu. “Wah burung mahal ini!” Ujar si pemuda saat melihat isinya. Lantas sekilas isi daripada karung itu dipertontonkan ke semua penumpang, termasuk aku dan ibu-ibu yang menggendong bayi. Hingga akhirnya tiba pada pria paling depan. Sekelebat memang tampak seperti seekor burung. Berbulu. Kekuningan dan didominasi warna hitam. Seperti burung beo persis. Tapi hanya sekilas, tidak betul-betul tampak utuh. Orang itu terlalu cepat memamerkannya.
Kami-penumpang bus-mengaku takjub juga dengan keberadaan burung dalam bus itu. Merdu nian suaranya. Indah betul rupanya -ya walaupun hanya tampak sekilas. Obrolan kembali berlanjut. Si pemuda tiba-tiba merogoh dompetnya. Ia sibuk menghitung helaian-helaian rupiah. Sembari bersungut ia berkata, “Aduh, Pak, saya kepingin banget beli burung Bapak itu. Bagus banget, saya suka. Tapi duit saya tinggal segini-gininya. Cuma empat juta lima ratus ribu. Gimana, Pak? Kurang nggak?”
“Burung begituan mah lima jutaan, Mas!” Lagi-lagi pria paling depan menoleh ke belakang untuk sekedar kasih info harga yang menurutku kurang penting untuk dikatakan. “Empat juta lima ratus jadiin deh, Pak…” Rengek si pemuda.
“Burung begituan mah lima jutaan, Mas!” Lagi-lagi pria paling depan menoleh ke belakang untuk sekedar kasih info harga yang menurutku kurang penting untuk dikatakan. “Empat juta lima ratus jadiin deh, Pak…” Rengek si pemuda.
Bapak pemilik burung menggeleng sambil tertawa kecil. Wajahnya langsung riang saat ada tawaran. Rupanya ia tak sepenuh hati memelihara burungnya. Buktinya ia tak berusaha mempertahankan. “Nggak bisa, Mas. Lima juta. Saya baru ingat harga itu sama dengan waktu saya jual TV tempo hari seharga lima juta.” Angka lima juta berhasil mempengaruhinya. Omongan pria depan berhasil ditelannya sehingga ia keras tak mau harga damai empat juta lima ratus ribu. Kedua pihak bingung. Yang satu bersikeras kepingin memiliki burung itu. Satunya lagi bingung karena belum terbiasa transaksi masalah burung, kekeh pula dengan harga mati lima juta. Akhirnya jalan tengah diambil pria paling depan tadi.
“Gini aja,” Katanya. “Mas saya bantu, deh.”
“Gimana caranya, Pak?” Pemuda itu bingung.
“Gimana caranya, Pak?” Pemuda itu bingung.
Tanpa basa-basi pria paling depan itu mendekatiku lantas sebuah pertanyaan mengejutkan ia berikan padaku, “Bang, ada lima ratus ribu gak? Pinjam dulu barang sebentar buat si Mas itu.” Dalam hati aku berpikir -apa urusan dia dengan pemuda itu sampai bela-belain berhutang sama orang lain atas nama membantu kekurangan dana. Apalagi orang-orang itu baru kenal beberapa menit, sudah seperti akrab sekali. Seakan-akan tahu segala kondisi dan mengerti keadaan masing-masing.
Dia berlanjut, “Nanti uang Abang saya ganti. Sebentar lagi saya turun kok, sekitar tiga ratus meter lagi pas di simpang lampu merah. Rumah saya nggak jauh dari sana. Nanti Abang tunggu aja di sini, jangan ke mana-mana, saya bakal ambil uang di rumah lalu saya kembalikan sama Abang. Abang ada nggak uang lima ratus ribu?” Dengan bahasa yang cukup meyakinkan aku pun percaya.
Uang yang barusan ku ambil di ATM terpaksa harus ku serahkan saat itu juga ke pria paling depan, toh nanti juga diganti. Begitu mendapat uang dariku ia langsung menyerahkannya pada si pemuda. “Nah… nih ada tambahan lima ratus ribu, Mas. Jadi pas, kan?” Pemuda itu tentu senang akhirnya kesampaian juga membeli burung itu. Bapak yang menjual juga untung. Simbiosis mutualisme berlaku untuk keduanya. Aku hanya bersabar menunggu pria paling depan turun, lalu secepatnya mengembalikkan uangku.
“Makasih, Pak. Entar gimana saya balikin uang Bapak?” Pemuda itu bertanya pada pria paling depan. Dijawabnya, “Tenang. Gak usah khawatir. Kapan-kapan juga nggak masalah.” Sebegitu gampangnya ia melepas uang dan tak memikirkan waktu pengembaliannya. Tanpa ada kontak tentu sulit mencari satu di antara jutaan orang di Jakarta hanya untuk sekedar menagih uang lima ratus ribu. Aku dibuat heran. Akhirnya transaksi pun selesai. Karung berisi burung itu pun ada dalam genggaman si pemuda. Seiring dengan berakhirnya transaksi, bapak penjual burung akhirnya turun bersama rekannya yang membaca koran itu. “Terima kasih.” Sebuah ucapan singkat sebagai pertanda berakhirnya jual beli burung dadakan dalam bus itu.
Sekitar beberapa meter si pemuda itu memutuskan untuk turun. Ia turun bersama wanita pembawa bayi. Tinggal aku dan pria paling depan itu. Ia tersenyum-senyum padaku seolah menyematkan janji akan pengembalian uangku. Saat yang ditunggu pun tiba. Lampu merah di persimpangan menghentikan laju bus. Ia turun di sana sembari berpesan padaku. “Nanti ya, Mas.” Lantas ia turun dan berlari menuju halte. Di sana rupanya berkumpul orang-orang yang tadi menjadi penumpang bus. Mereka bercampur seolah sudah akrab jauh daripada obrolan-obrolan tadi, seperti reuni sesama penumpang Metro Mini. Mereka tertawa bersama, termasuk ibu-ibu pembawa bayi itu. Aku jadi makin heran. Ada apa dengan ini semua? Batinku berpikir.
Tiba-tiba bus melaju perlahan. Lampu hijau mempersilakan bus berjalan. Aku yakin sang sopir maupun kondekturnya tidak pikun dan tidak tuli. Barusan tentu mereka dengar ucapan pria paling depan yang berjanji akan mengembalikkan uangku dan menyuruhku menunggu dalam bus. “Pak, kok jalan sih? Orang tadi nyuruh saya diam dulu di sini. Dia belum balikin uang saya. Ngetem dulu nggak apa-apa deh…” Aku bergerutu kesal. “Kan lampu hijau, Bang.” Ujar si sopir. “Iya, saya tahu. Cuma orang tadi kan…”
Bus makin kencang melaju. Aku mulai gerah. “Maaf, Bang. Maaf…” Si kondektur mendadak seperti korban penyanderaan. Tingkahnya seperti habis berjumpa dengan perompak. “Tadi… bapak pembaca koran itu menyembulkan belatinya di balik koran. Mata belati itu mengarah pada saya. Kalau saya bilang semuanya ke Abang saat itu, pasti belati itu sudah nancap di perut saya. Saya akan mati dan keluarga saya nggak bisa makan.”
Aku terkejut mendengarnya. Tapi tanda tanya masih menyangkut di pikiranku. “Maksud Bapak?”
“Bang, sebetulnya nggak ada suara burung beo. Nggak ada transaksi jual beli. Nggak pernah ada ibu-ibu kesusahan membawa bayi.”
Semakin kondektur itu bercerita, aku semakin bingung. “Kalau bicara yang jelas, Pak. Saya nggak paham. Bagaimana bisa ada suara burung dan wujudnya kalau Bapak tadi sebut nggak ada? Lalu bagaimana bisa nggak ada transaksi kalau tadi terjadi serah terima uang? Dan ibu-ibu tadi, kenapa Bapak bisa bilang nggak ada juga?!” Nadaku meninggi.
“Bang, sebetulnya nggak ada suara burung beo. Nggak ada transaksi jual beli. Nggak pernah ada ibu-ibu kesusahan membawa bayi.”
Semakin kondektur itu bercerita, aku semakin bingung. “Kalau bicara yang jelas, Pak. Saya nggak paham. Bagaimana bisa ada suara burung dan wujudnya kalau Bapak tadi sebut nggak ada? Lalu bagaimana bisa nggak ada transaksi kalau tadi terjadi serah terima uang? Dan ibu-ibu tadi, kenapa Bapak bisa bilang nggak ada juga?!” Nadaku meninggi.
Akhirnya pak kondektur berterus terang, “Bukan suara beo yang abang dengar, melainkan suara bapak pembaca koran itu. Bukan burung beo yang abang lihat, tapi kemoceng berwarna hitam-kuning. Bukan transaksi yang abang saksikan, namun sandiwara. Nggak ada ibu-ibu pembawa bayi, justru dia dalang dari semuanya. Dia yang mengawasi tingkah laku lelaki-lelaki yang jadi anak buahnya itu. Dan nggak pernah ada bayi dalam gendongan, itu cuma boneka.”
“Apa?!” Aku hampir tak bisa menutup bibirku yang menganga kaget.
“Ya. Abang kena tipu.”
“Apa?!” Aku hampir tak bisa menutup bibirku yang menganga kaget.
“Ya. Abang kena tipu.”
Mendengar itu semua rasanya aku ingin menggebuki diriku sendiri. Menghujamnya. Menamparnya. Bahkan ingin menghabisinya. Aku tak menyangka gelar sarjana ekonomi yang disandang olehku sebegitu mudahnya dipatahkan oleh manusia-manusia j*lang tadi. Ku akui mereka jauh lebih pintar daripada aku. Skenario mereka cukup baik. Adegan mereka dramatis. Mereka kompak. Nyaris tiada yang cacat sedikit pun dari apa yang mereka perbuat. Aku berhasil hanyut dalam drama sialan yang mereka lakoni. Cari uang di Jakarta ternyata tak mesti gelar sarjana atau yang punya famor selera tinggi. Tapi mereka bisa melakukannya. Dengan modal berani, kompak, dan solid.
Cerpen Karangan: Umar Farooq Zafrullah
Facebook: Umar Farooq
Nama Penulis: Umar Farooq Zafrullah
Panggilan: Umay
Twitter/Instagram: Umarisumay
ID Line: Zafrullahumar
Facebook: Umar Farooq
Nama Penulis: Umar Farooq Zafrullah
Panggilan: Umay
Twitter/Instagram: Umarisumay
ID Line: Zafrullahumar
Comment Now
0 comments